Tuesday, April 07, 2009

seorang pedagang batu-batuan

Pada suatu ketika, hiduplah seorang pedagang batu-batuan. Setiap hari dia berjalan dari kota ke kota untuk memperdagangkan barang-barangnya itu. Ketika dia sedang berjalan menuju ke suatu kota, ada suatu batu kecil di pinggir jalan yang menarik hatinya. Batu itu tidak bagus, kasar, dan tidak mungkin untuk dijual. Namun pedagang itu memungutnya dan menyimpannya dalam sebuah kantong, dan kemudian pedagang itu meneruskan perjalanannya.

Setelah lama berjalan, lelahlah pedagang itu, kemudian dia beristirahat sejenak. Selama dia beristirahat, dia membuka kembali bungkusan yang berisi batu itu. Diperhatikannya batu itu dengan seksama, kemudian batu itu digosoknya dengan hati-hati batu itu. Karena kesabaran pedagang itu, batu yang semula buruk itu, sekarang terlihat indah dan mengkilap. Puaslah hati pedagang itu, kemudian dia meneruskan perjalanannya.

Selama dia berjalan lagi, tiba-tiba dia melihat ada yang berkilau-kilauan di pinggir jalan. Setelah diperhatikan, ternyata itu adalah sebuah mutiara yang indah. Alangkah senangnya hati pedagang tersebut, mutiara itu diambil dan disimpannya tetapi dalam kantong yang berbeda dengan kantong tempat batu tadi. Kemudian dia meneruskan perjalanannya kembali.

Adapun si batu kecil itu merasa bahwa pedagang itu begitu memperhatikan dirinya, dan dia merasa begitu bahagia. Namun pada suatu saat mengeluhlah batu kecil itu kepada dirinya sendiri. "Tuan begitu baik padaku, setiap hari aku digosoknya walaupun aku ini hanya sebuah batu yang jelek, namun aku merasa kesepian. Aku tidak mempunyai teman seorangpun, seandainya saja Tuan memberikan kepadaku seorang teman". Rupanya keluhan batu kecil yang malang ini didengar oleh pedagang itu. Dia merasa kasihan dan kemudian dia berkata kepada batu kecil itu "Wahai batu kecil, aku mendengar keluh kesahmu, baiklah aku akan memberikan kepadamu sesuai dengan yang engkau minta". Setelah itu kemudian pedagang tersebut memindahkan mutiara indah yang ditemukannya di pinggir jalan itu ke dalam kantong tempat batu kecil itu berada.

Dapat dibayangkan betapa senangnya hati batu kecil itu mendapat teman mutiara yang indah itu. Sungguh betapa tidak disangkanya, bahwa pedagang itu akan memberikan miliknya yang terbaik kepadanya. Waktu terus berjalan dan si batu dan mutiara pun berteman dengan akrab. Setiap kali pedagang itu beristirahat, dia selalu menggosok kembali batu dan mutiara itu. Namun pada suatu ketika, setelah selesai menggosok keduanya, tiba-tiba saja pedagang itu memisahkan batu kecil dan mutiara itu. Mutiara itu ditempatkannya kembali di dalam kantongnya semula, dan batu kecil itu tetap di dalam kantongnya sendiri. Maka sedihlah hati batu kecil itu. Tiap-tiap hari dia menangis, dan memohon kepada pedagang itu agar mengembalikan mutiara itu bersama dengan dia. Namun seolah-olah pedagang itu tidak mendengarkan dia.

Maka putus asalah batu kecil itu, dan di tengah-tengah keputusasaannya itu, berteriaklah dia kepada pedagang itu "Oh tuanku, mengapa engkau berbuat demikian ? Mengapa engkau mengecewakan aku ?"

Rupanya keluh kesah ini didengar oleh pedagang batu tersebut. Kemudian dia berkata kepada batu kecil itu "Wahai batu kecil, kamu telah kupungut dari pinggir jalan. Engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah. Mengapa engkau mengeluh ? Mengapa engkau berkeluh kesah ? Mengapa hatimu berduka saat aku mengambil mutiara itu daripadamu ? Bukankah mutiara itu miliku, dan aku bebas mengambilnya setiap saat menurut kehendakku ? Engkau telah kupungut dari jalan, engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah. Ketahuilah bahwa bagiku, engkau sama berharganya seperti mutiara itu, engkau telah kupungut dan engkau kini telah menjadi milikku juga. Biarlah aku bebas menggunakanmu sekehendak hatiku. Aku tidak akan pernah membuangmu kembali".

Mengertikah apakah maksud cerita di atas ? Yang dimaksud dengan batu kecil itu adalah kita-kita semua, sedangkan pedagang itu adalah Tuhan sendiri. Kita semua ini buruk dan hina di hadapanNya, namun karena kasihnya itu Dia memoles kita, sehingga kita dijadikannya indah di hadapanNya. Sedangkan yang dimaksud dengan mutiara itu adalah berkat Tuhan bagi kita semua. Siapa yang tidak senang menerima berkat ? Berkat itu dapat berupa apa saja dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin berupa kegembiraan, kesehatan, orangtua, saudara dan sahabat, dan banyak lagi. Apakah kita pernah bersyukur, setiap kali kita mendapat berkat itu ? Dan apakah kita tetap bersyukur, jika seandainya Tuhan mengambil semuanya itu dari kita ? Bukankah semua itu milikNya dan Ia bebas mengambilnya kembali kapanpun Ia mau ? Bersyukurlah selalu kepadaNya, karena Dia tidak akan pernah mengecewakan kita semua.

Ingatlah Yer 29:11 Bukankah Aku ini mengetahui rencana-rencanaKu kepadamu ? Yaitu rencana keselamatan dan bukannya rencana kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari esok yang penuh harapan. dan ingatlah akan ayat 12: Maka kamu akan berseru dan datang kepadaKu untuk berdoa dan Aku akan mendengarkan kamu.

Tuhan memberkati.

Wednesday, April 01, 2009

KASIH YANG PALING BESAR

KASIH YANG PALING BESAR

Kategori: Cerita – Pengorbanan

  

Suatu pagi yang sunyi di Korea, di suatu desa kecil, ada sebuah bangunan kayu mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu di mana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.


Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka. Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

 

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama.


Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Kemudian beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada grup itu dan perawat menerjemahkan, Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk gadis kecil ini?" Anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk teman kalian, karena jika tidak ia akan meninggal!"


Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah.


Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.

 

"Tenang saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok."


Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis.

"Apakah sakit?" tanya dokter itu.

 

Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya. Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu.


"Apakah sakit?"

Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."

"Lalu kenapa kamu menangis?",tanya dokter itu.

"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab bocah itu.

Dokter itu tercengang! "Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?"

Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku!"

 

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, "Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu? "

 

Sambil menangis ia berkata, "Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya!

Tuhan Yesus lebih dahulu mengasihi kita dengan Kasih Yang paling Besar........


Wednesday, February 18, 2009

My Lovely Mom...

Ibu saya telah menjanda selama 9 tahun. Beliau tidak mau tinggal bersama salah satu anaknya, beliau lebih senang tinggal di rumah sendiri ditemani oleh kedua orang cucunya. Belakangan ini saya jarang menemuinya karena kesibukan kerja dan bantu istri saya mengurus tiga anak kami.

Suatu malam, tiba-tiba saya pingin pergi berdua saja dengan Ibu dan ketika pikiran itu saya kemukakan ke istri saya, dan spontan dijawab..
"Kenapa tidak kamu lakukan hal itu sekarang, selagi Ibu masih sehat ?"
Saya segera melompat dari tempat duduk saya, angkat telpon.. dan langsung telepon ibu, mengajaknya makan malam dan nonton film. Berdua saja...

"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon.
Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalau menerima  undangan yang datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu pasti akan membawa berita buruk.
"Saya pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita sekali-sekali ke luar berdua saja," jawab saya. "Istri saya baik-2 aja kok, tapi kali ini (besok) saya memang hanya pingin pergi berdua dengan Ibu, itupun kalau Ibu mau..."
"Ibu mau sekali,..." jawabnya setelah terdiam beberapa lama. Ah, ...sepertinya dia masih curiga.

Besok malamnya, sepulang kantor saya ke rumah ibu. Dari halaman sudah terlihat oleh saya dia agak gelisah, mungkin karena sudah tidak sabar menunggu, dan berdandan resmi sekali.
Ibu jelas telah menata rambutnya di salon, dan dia memakai gaunnya yang terbaik. Gaun yang dipakai pada pesta ulangtahun perkawinan yang terakhir ketika ayah masih hidup.

Ibu menyambut saya dengan senyum lebar, dengan sorot mata seolah tidak percaya akan diajak 'kencan' oleh anak laki-lakinya yang bontot.
"Ibu sempat cerita ke teman-teman tetangga tentang rencana kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu sekarang," kata ibu seraya masuk mobil. "Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya."

Kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasana ruangan didalamnya terasa elegan & menyenangkan, dan sayup-sayup terdengar suara musik yang lembut. Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan,
jalannya anggun persis seperti First Lady.
Ketika itu saya sempat menyesali diri, kenapa tidak dari dulu sejak Ayah meninggal, saya hibur Ibu dengan cara seperti ini ..???

Giliran mau pesan makanan, saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walaupun sudah menggunakan kacamata.
Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak menengok ke ibu. Dia sedang memandangi saya dengan senyum yang penuh kasih...
"Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kamu masih kecil," katanya, dengan nada bangga...
"Sekarang ibu santai saja. Giliran saya yang melayani ibu," jawab saya, dengan tidak kalah bangganya...
Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari. Tidak ada topik yang istimewa tapi obrolan mengalir saja sampai-sampai akhirnya kami terlambat untuk menonton film.

Ketika saya mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata, "Ibu mau pergi lagi dengan kamu, tapi lain kali ibu yang bayar, ok ?!" Saya setuju...

"Bagaimana 'kencan'mu dengan Ibu?" tanya istri saya sesampai di rumah.
"Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga. Tadinya tidak tahu mau ngomong apa. Tapi malah ceritanya kelewat asyik sampai nggak jadi nonton film.."
Istri saya ikut senang mendengar cerita tentang pengalaman saya dan Ibu di restoran itu.

Lalu .................................

Beberapa hari kemudian, ketika sedang di kantor saya dikagetkan oleh berita melalui telpon dari istri saya yang mengabarkan bahwa ibu telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa... terkena serangan jantung.
Begitu tiba-tiba kejadiannya.., saya merasa belum berbuat banyak untuk Ibu, masih terbayang dimata saya 'senyum & sorot mata' kebahagiaan yang terpancar diwajah Ibu ketika makan sambil ngobrol berdua dengan saya di restoran beberapa hari sebelumnya.

Selama seminggu kami tidur di rumah Ibu, disamping untuk benahin barang-barang Ibu yang perlu diberesin, juga menerima teman-teman arisan Ibu serta tetangga yang ingin bertamu untuk menyampaikan bela-sungkawa.
Sekembalinya kami di rumah, ada sepucuk 'surat' yang dikirim oleh restoran tempat saya dan ibu makan malam. Surat itu dilampiri copy 'tanda lunas'.. untuk menu makanan yang sama persis dengan makanan & minuman yang pernah kami pesan sebelumnya... (tertanggal 2 hari setelah kami berdua makan malam bersama), dan... ada selembar kertas dengan tulisan tangan (yang tidak asing bagi mata saya) yang diselipkan disitu, bertuliskan :

"Ibu sudah bayar makan malam kita (sesuai janji Ibu)  walaupun rasanya tak mungkin kita bisa makan bersama lagi. Namun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua orang, Ibu pingin bisa kamu gunakan untuk makan berdua istrimu...
Terimakasih anakku, besar sekali arti undanganmu malam itu, bagi Ibu...!"
 
Saat itu, saya tidak mampu lagi menahan air mata yang sejak di rumah Ibu masih dapat saya 'alih'kan ke hal lain..., kaki saya tiba-tiba terasa lemas, hingga saya terpaksa mencari tempat duduk di teras rumah saya untuk beberapa lama...

......................................

Ketika itulah saya baru memahami betapa pentingnya arti "kesempatan" ... yang bisa kita gunakan untuk mengatakan kepada orang-orang yang kita sayangi, mengenai perasaan kita terhadap mereka....!
Dari pengalaman itu, setiap ada 'kesempatan' berkomunikasi dengan orang-2 dekat saya, khususnya dengan 'orang-2 terkasih', selalu saya manfaatkan untuk menyisipkan pesan singkat... sekedar agar mereka tau bahwa saya sangat menyayangi mereka...!!
  
......................................

Temans, hidup ini kadang terasa sangat singkat... tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup ini daripada "Keluarga / Orang-2 yang kita cintai...".
Sediakan waktu kita secara khusus untuk mereka, jangan sampai kita terlambat untuk mengatakan / menunjukkan kepada mereka bahwa kita amat sangat menyintainya...!!!.

........................................

 
Noted:
I miss U more than I ever missed..
I love U Mom...

Tuesday, February 17, 2009

usaha & doa

Dikisahkan, ada seorang pemuda sedang naik sepeda motor di jalan raya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit. Dengan segera ditepikan sepeda motornya untuk berteduh di emper sebuah toko. Dia pun membuka helm yang dikenakan dan segera perhatiannya tercurah pada langit di atas yang berlapis awan kelabu.

Sambil menggigil kedinginan, bibirnya tampak berkomat-kamit melantunkan doa, "Tuhan, tolong hentikan hujan yang kau kirim ini. Engkau tahu, saya sedang didesak keadaan harus segera tiba di tempat tujuan. Please Tuhan....., please..... Tolong dengarkan doa hambamu ini". Dan tak lama kemudian tiba-tiba hujan berhenti dan segera si pemuda melanjutkan perjalanannya sambil mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mendengar dan mengabulkan doanya.

Di waktu yang berbeda, di cuaca yang masih tidak menentu, lagi-lagi hujan turun cukup deras dan kembali si pemuda mengulang kegiatan yang sama seperti pengalamannya yang lalu, yakni berdoa memohon Tuhan menghentikan hujan, tetapi kali ini hujan tidak berhenti bahkan semakin deras mengguyur bumi. Di tengah menunggu berhentinya hujan, si pemuda sadar, dia harus berupaya menemukan dan membeli jas hujan untuk mengantisipasi saat berkendaraan di tengah hujan. Kali ini, walaupun terlambat, dia belajar sesuatu hal yakni ada saatnya mengucap doa tetapi juga harus disertai dengan usaha yaitu menyiapkan jas hujan.

Suatu hari, di waktu yang berbeda,si pemuda ke kantor tanpa sepeda motornya karena mogok akibat kebanjiran. Hujan yang kembali turun, tetapi jas hujan yang telah dibeli, saat dibutuhkan, tiba-tiba raib entah kemana. Dia pun mulai bertanya kesana kemari, barangkali ada yang bersedia meminjamkan payung atau apapun untuk melindunginya dari terpaan guyuran hujan. Kembali diulang doa yang sama, usaha yang sama, dan harapan yang sama pula. Eh,tiba-tiba seorang teman yang bersiap hendak meninggalkan tempat itu dengan berkendaraan mobil berkata, "Hai teman, kalau kita searah jalan. Ayo ikut aku sekalian. Aku antar sampai tempat tujuanmu dan dijamin tidak kehujanan, oke?". maka si pemuda itu pun mendapat tumpangan dan pulang ke rumah dengan selamat.

Peristiwa alam yang sama, yakni turunnya hujan, telah mengajarkan si pemuda bahwa selain doa, harus usaha dan akhirnya berserah. Karena jika kita mau membuka hati, ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah yang harus berupaya dengan segala cara dan pikiran yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Pembaca yang budiman,

Hanya sekedar mengandalkan doa saja namun tanpa usaha dan kerja nyata tidak mungkin ada perkembangan, hasil akhirnyapun pasti nihil alias kosong, sedangkan sekedar kerja keras tanpa diiringi doa memungkinkan kita salah bertindak karena hanya memikirkan hasilnya. Dengan dilengkapi doa tentu usaha kita itu terarah di jalan yang benar, baik dan halal, maka yang paling ideal adalah usaha dan kerja keras kita yang diiringi dengan doa, niscaya segala usaha kita akan dikabulkan dan tentu hasil yang kita inginkan akan sukses dan memuaskan.

Wednesday, February 11, 2009

"If I Walk With Thee..."


Salam Kasih

Saya lagi belajar dan selalu belajar dan beriman kepada TUHAN agar saya
bersandar selalu kepadaNYA, semoga pengalaman ini yang saya dapat email dari
rekan saya bisa menambah semangat kita untuk selalu bergantung dan bersandar
kepada TUHAN

Kesaksian "If I Walk With Thee..."
dari Diana, Jakarta .

Sejak di PHK dari perusahaan asing tempat saya bekerja,saya mencari nafkah
dengan menjadi guru bhs Inggris di rumah.Murid saya dari bermacam-macam
latar belakang,
ada anak SMU, mahasiswa bahkan karyawan. Salah satu murid saya, namanya
Daniel.Dia termasuk anak yang tidak pandai.Nilainya selalu paling jelek.
Tetapi dia anak yang rajin, tidak pernah putus asa.Kehidupan rohaninya pun
cukup baik, dia rajin ke gereja dan rajin berdoa. Daniel belajar bhs Inggris
karena
dia ingin sekali bekerja di luar negeri.Walapun sebetulnya keluarganya sudah
menganggap dia gila, karena keluarganya tahu bahwa dia bukan seorang anak
yang pandai...

Dan untuk bekerja diluar negeri pada perusahaan yang akan dilamar oleh
Daniel, standar Bahasa Inggrisnya harus Excellent. Jadi keluarganya selalu
menyuruhnya untuk melupakan impiannya dan menyuruhnya bekerja di Indonesia
saja. Apalagi biaya yg harus dikeluarkan oleh keluarganya lumayan besar
untuk membiayai keberangkatannya.Tetapi Daniel tetap berusaha keras dengan
belajar dan
berdoa. Kalau pada anak normal 3-5 bulan saya mengajar sudah terlihat
kemajuannya, ibaratnya seekor burung, maka sudah bisa berkicau walaupun
belum sempurna.Tapi Daniel ini,
sudah 3-5 bulan kondisinya tetap saja "bisu,"tidak ada satu katapun
yang
bisa dia katakan, yang membuat saya sukacita.

Saya tetap dengan sabar mengajar dia, tapi sesudah 7 bulan tidak ada
kemajuan yang berarti saya akhirnya mulai putus asa. Saya mencoba berbicara
dengan dia dari hati ke
hati.Maksud saya supaya dia melupakan impiannya untuk bekerja di luar negeri
karena kemampuannya belajar bhs Inggris sangat kurang, dan saya juga akan
meminta dia
untuk berhenti les dari saya, karena saya sungguh2 sudah putus asa.Saya kan
juga tidak mau dibilang menerima uang les dengan cuma2 tanpa ada kemajuan
dari sang murid.
Setelah saya utarakan semua uneg2 saya, saya melihat raut muka Daniel yang
sedih, saya pun sedih... bagaimana tidak, 7 bulan sudah menjadi murid saya
dan saya minta dia
untuk berhenti belajar karena saya putus asa... Tetapi jawaban Daniel
sungguh "menampar" iman kepercayaan saya sebagai seorang Katolik yang

percaya dan bergantung
pada Yesus.Daniel berkata: "Ibu, kalau saya berjalan dengan Tuhan, saya
percaya saya akan mendapatkan pekerjaan ini". Saya sungguh malu, bagaimana

tidak... Daniel seorang
muda dan sudah mempunyai keyakinan iman yang menakjubkan.Saya berkata:
"OK,
you can join my class again if you can say that words once again in a good
English!"(baiklah,kamu boleh belajar lagi sama saya kalau kamu bisa
mengatakan sekali lagi perkataanmu tadi dalam Bahasa Inggris yang baik)
ini dengan maksud bahwa kalau dia tidak bisa mengatakan dengan baik, maka
saya mempunyai alasan untuk menyuruh
dia berhenti belajar (dasar saya sudah putus asa).Tapi tidak saya sangka
Daniel mengulangi perkataannya dengan bhs Inggris sempurna: "Mam, if I
walk
with Thee,I believe that I can get this job."

Rupanya perkataan ini selalu diulang2 Daniel untuk membangkitkan iman dia
pada saat dia sendiri putus asa...(makanya pada waktu saya minta dia
mengatakannya dlm Bahasa Inggris dengan lancar dia berkata... jadi bukan
karena dia pintar, tetapi karena dia sudah hafal...) Maka tidak ada alasan
bagi saya untuk tidak mengajarnya lagi, setelah belajar selama 12 bulan,
tibalah waktunya Daniel untuk
maju interview di perusahaan asing tempat dia melamar.Saya sebetulnya tahu
bahwa Bahasa Inggrisnya belum sempurna sekali dan masih dibawah standar yang
ditentukan oleh perusahaan, tapi kemauan dan iman dia bahwa dia akan
ditolong Tuhan membuat saya pun bisa melepas dia interview dengan hati
besar.

Pada hari dia interview saya berdoa terus, saya mohon kepada Tuhan agar
Tuhan tidak mengecewakan Daniel yang sungguh bergantung pada Tuhan.  Siang
jam 2, Daniel telfon saya dan mengatakan dia LULUS. Puji Tuhan!! Saya
menangis terharu, saya merasa pasti bahwa tangan Tuhan yang sudah menolong
Daniel, bukan karena saya guru yang hebat, atau bukan karena kemampuan
Daniel berbahasa Inggris. Tapi betul2 karena tangan Tuhan... Saya minta dia
datang ke saya dan menceritakan semuanya secara detail. Ternyata si
interviewer, yaitu orang asing yang seharusnya menginterview Daniel pada
hari itu tidak ada, karena harus pulang kampung ke London karena ibunya
meninggal, dan penggantinya adalah orang Indonesia yang nama keluarganya
atau marganya sama dengan Daniel... yaitu
"Sianturi." Jadilah interview itu bukan bhs Inggris full... tapi
seperti
ngobrol ngalor ngidul campur2 Bahasa Inggris dan Batak...

Saya PERCAYA bahwa ini bukan suatu KEBETULAN, yaitu KEBETULAN orang asingnya
harus pulang kampung; dan KEBETULAN penggantinya "saudara sekampung"
Daniel...TAPIINI SUNGGUH MUJIZAT TUHAN.... Akhirnya, tentu saja Daniel lulus
interview dan sekarang dia sudah bekerja di Miami . Setiap kali telepon
saya, Daniel selalu saya ingatkan bahwa dia mendapatkan
pekerjaan ini hanya karena kebaikan Tuhan.... bukan karena
kehebatan dia.... (karena dia memang bukan anak yang pandai) dan
juga bukan karena kebetulan. Daniel menyadari itu dan ia selalu berkata:
"Don' t worry Mam, I always walk with Thee..."

"Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan
bertindak." Mazmur 37:5

Semoga ini bisa menjadi berkat bagi kita semua


Guru Sozuaon
Seseorang yang terus belajar untuk bersandar kepada TUHAN

Kesaksian Yang sungguh Indah

Kesaksian

Malaikat Kecil Telah Menyelesaikan Tugasnya 

Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia

________________________________________________________________________

Pengantar Redaksi: Dalam terbitan Warta RC minggu lalu dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim,  anggota Dewan Paroki Regina Caeli.. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar  kisah hidup Olivia  yang berjuang melawan penyakitnya sejak usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah seorang kerabatnya.. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.

______________________________________________________________________________________

       Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.

       Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. "Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi," demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.

Bergelut dengan Pengobatan

      Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. "Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya," berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.

     

      Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata 'BAPTIS'. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan "baptis berarti kamu mesti bertobat!". Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.

      

      Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.         

    

     Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.

Membawa kepada Kristus

       Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar "Smile". Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya "Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile." Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.

     

       Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.

     

       Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama "Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati". Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.

"Terimakasih Tuhan Yesus"

      

        Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, "Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…".  Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, "Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv," tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. "Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin..." Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.

      

        Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa  berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya "Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…" kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap "Trima kasih Tuhan Yesus" . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya "Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv..."  Dalam kondisi yang sudah 'koma' Olivia meneteskan airmata.

      

        Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, "Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan 'koma' itu ia benar2 menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45.

Tugasnya sudah selesai

       Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa "Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan;  berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita".

      

        Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.

      

        Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan "Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini," detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, "Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan".

      

        Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat.. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.

      

        Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)

       

 

 

 



HANYA SEBUAH BELOKAN

Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan
Allah dari awal sampai akhir. (Pengkhotbah 3:11)

Seorang petani mempunyai seekor kuda jantan yang sangat disayanginya.
Setiap hari, dengan telaten ia merawat kuda itu. Suatu kali kuda itu
kabur. Para tetangga datang menyampaikan rasa simpati atas kehilangan
yang dialami si petani. Sebulan kemudian kuda itu balik lagi disertai
serombongan kuda liar dari gunung. Rupanya kuda itu lari ke hutan.
Dan, ketika kembali ia diikuti oleh teman-temannya. Para tetangga
datang memberi ucapan selamat karena kini ia memiliki banyak kuda.

Suatu hari anak laki-laki si petani berusaha mengendarai salah seekor
kuda liar itu. Entah bagaimana ia terjatuh. Kakinya terinjak oleh si
kuda liar hingga patah. Akibatnya ia menjadi lumpuh. Para tetangga
datang lagi menyatakan rasa simpati. Satu tahun berselang terjadilah
perang. Semua pemuda harus berangkat ke medan perang. Hanya anak
laki-laki si petani yang dibebaskan untuk tidak ikut berperang karena
ia lumpuh. Dan ia satu-satunya pemuda yang selamat dari desa itu.

Di balik musibah kerap tersimpan berkat. Sebaliknya, di balik berkat
tidak jarang tersembunyi kesusahan. Maka penting sekali untuk kita
selalu mawas diri. Jangan kecil hati ketika tertimpa musibah, sebab
dari situ bisa saja kita menuai kebahagiaan. Tetapi juga tidak lupa
diri saat bergelimang berkat, sebab bisa saja kemudian kita mengalami
kesusahan. Apa yang tampaknya seperti "ujung jalan" kerap hanya
sebuah "belokan", masih ada kelanjutannya. Seperti kata Pengkhotbah,
untuk segala sesuatu di dunia ini ada waktunya; waktu suka waktu
duka, waktu manis waktu pahit. Kita tidak bisa menyelami sepenuhnya
pekerjaan Tuhan -AYA

APABILA DUKA MENIMPA INGAT SAAT SUKA
SUPAYA TIDAK KECIL HATI.
APAILA SUKA MENGHAMPIRI INGAT SAAT DUKA
SUPAYA TIDAK LUPA DIRI