Tuesday, March 09, 2010

kita termasuk Anda dapat membuat perubahan

Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines ,
Iowa . Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano selama lebih dari 30 tahun.

Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda.
Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah
mengajar beberapa murid berbakat.

Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang 'tertantang secara musik'.
Contohnya adalah Robby. Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya.
Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai ketika lebih muda,
saya jelaskan; itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin
mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid.Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi dia mempelajari benar-benar  tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya
wajibkan untuk dipelajari semua murid.
 
Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, 'Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari.' Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.
Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja maka saya tidak jadi menghubunginya. Saya juga senang dia
tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!
 
Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby
(yang juga menerima brosur) menanyakan saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena  dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut.
Dia katakan  bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih.
'Bu Hondrof... saya mau main!' dia memaksa. Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main dipertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja. Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya. Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah.
Murid-murid telah berlatih dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok. 'Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?' pikir saya. 'Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?' Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto #21 in C Major..
 
Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya. Tetapi.... jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo.. . dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. 'Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana
kau melakukannya? ' Melalui pengeras suara Robby menjawab, 'Bu Hondorf... ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit? Ya... Sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah kembali ke surga pagi ini. Dan sebenarnya.. . dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara
khusus.' Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu.Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke rumah duka, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak,  betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.
 
Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya pada dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa..
Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan.. . dia sedang main piano. 
 
Kita semua mempunyai ribuan kesempatan tiap hari untuk melakukan perubahan. Keputusan untuk menyikapi sesuatu terletak di tangan Anda...Apakah Anda akan menganggap sesuatu itu jelek dan mengabaikannya ??
atau Anda mencoba untuk menghargai sesuatu apapun itu dan mengambil hikmahnya dgn penuh rasa syukur....??

Renungkanlah.  



--- On Mon, 3/8/10, Parlin <simanjuntak_parlin@yahoo.com> wrote:

From: Parlin <simanjuntak_parlin@yahoo.com>
Subject: Fwd: [smark_santothomas84] Fw: [untardoctors] Trs: [SMPK1-74] FW: Cerita yang menyentuh
To: "threejunejuly@yahoo.com" <threejunejuly@yahoo.com>
Date: Monday, March 8, 2010, 11:42 PM



Sent from my iPhone

Begin forwarded message:

From: EMMY Woo <emmy_woo@yahoo.com>
Date: February 25, 2010 12:32:50 GMT+07:00
To: st thomas 84 <smark_santothomas84@yahoogroups.com>, lukas setiaatmaja <lukassetia@yahoo.com>, delima_widjaja@yahoo.com, Diana Chandra Dewi <diana@chandrakreasi.co.id>
Cc: Abidin Elianto <oghie64@gmail.com>
Subject: [smark_santothomas84] Fw: [untardoctors] Trs: [SMPK1-74] FW: Cerita yang menyentuh
Reply-To: smark_santothomas84@yahoogroups.com

 


----- Forwarded Message ----
From: wira santoso <wira_santoso@ yahoo.com>
To: emmy_woo@yahoo. com
Sent: Thu, February 25, 2010 12:30:09 PM
Subject: Fw: [untardoctors] Trs: [SMPK1-74] FW: Cerita yang menyentuh



----- Forwarded Message ----
From: johan gautama <jl_gautama@yahoo. com>
To: fkuntar81plus@ yahoogroups. com; pmkakitiga@sindebud i.com; rudychandra3@ gmail.com; Alamsyah Zhang <alamsyahz@yahoo. com>; sofia.wily@yahoo. co.id; untardoctors@ yahoogroups. com; apotik mutiara kasih <apotikmutiarakasih@ yahoo.com>; Erry SA <erry.sa@skg. co.id>; Sanny lisardy <sannylisardy@ hotmail.com>; Subowo D.T. <subowo@attglobal. net>
Sent: Wed, February 24, 2010 8:56:31 AM
Subject: [untardoctors] Trs: [SMPK1-74] FW: Cerita yang menyentuh

 


----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Laron Queen <lucina1234@hotmail. com>
Kepada: "smpk1-74@yahoogrou ps.com" <smpk1-74@yahoogroup s.com>
Terkirim: Sel, 23 Februari, 2010 21:35:51
Judul: [SMPK1-74] FW: Cerita yang menyentuh







 

 

Cerita ini Bagus sekali..Silahkan Dibaca

Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines ,
Iowa . Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano selama lebih dari 30 tahun.

Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda.
Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah
mengajar beberapa murid berbakat.

Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang 'tertantang secara musik'.
Contohnya adalah Robby. Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya.
Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai ketika lebih muda,
saya jelaskan; itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin
mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid.Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi dia mempelajari benar-benar  tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya
wajibkan untuk dipelajari semua murid.
 
Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, 'Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari.' Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.
Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja maka saya tidak jadi menghubunginya. Saya juga senang dia
tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!
 
Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby
(yang juga menerima brosur) menanyakan saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena  dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut.
Dia katakan  bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih.
'Bu Hondrof... saya mau main!' dia memaksa. Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main dipertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja. Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya. Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah.
Murid-murid telah berlatih dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok. 'Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?' pikir saya. 'Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?' Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto #21 in C Major..
 
Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya. Tetapi.... jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo.. . dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. 'Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana
kau melakukannya? ' Melalui pengeras suara Robby menjawab, 'Bu Hondorf... ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit? Ya... Sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah kembali ke surga pagi ini. Dan sebenarnya.. . dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara
khusus.' Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu.Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke rumah duka, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak,  betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.
 
Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya pada dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa..
Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan.. . dia sedang main piano.
 
Dan sekarang, tambahan cerita ini.
Jika anda mau meneruskan e-mail ini, mungkin anda berpikir, orang mana di daftar alamat teman2 Anda yang  'cocok' untuk menerima pesan ini.
Orang yang mengirim e-mail ini yakin bahwa kita termasuk Anda dapat membuat perubahan. Kita semua mempunyai ribuan kesempatan tiap hari untuk melakukan perubahan. Keputusan untuk menyikapi sesuatu terletak di tangan Anda...Apakah Anda akan menganggap sesuatu itu jelek dan mengabaikannya ??

atau Anda mencoba untuk menghargai sesuatu apapun itu dan mengambil hikmahnya dgn penuh rasa syukur....??

Renungkanlah.  

 





Australia's #1 job site If it exists, you'll find it on SEEK.



Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!


__._,_.___
Recent Activity:
    .

    __,_._,___
    n: none; } #ygrp-sponsor #ov li { font-size: 77%; list-style-type: square; padding: 6px 0; } #ygrp-sponsor #ov ul { margin: 0; padding: 0 0 0 8px; } #ygrp-text { font-family: Georgia; } #ygrp-text p { margin: 0 0 1em 0; } #ygrp-text tt { font-size: 120%; } #ygrp-vital ul li:last-child { border-right: none !important; } -->


    PERANGKAP TIKUS

    Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja.
    Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan
    dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa
    mereka dari pasar??"

    Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus.
    Sang tikus kaget bukan kepalang..
    Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus
    di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus....."
    Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkap tikus"

    Sang Ayam berkata "Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak
    berpengaruh terhadap diriku"

    Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
    Sang Kambing pun berkata "Aku turut ber simpati...tapi tidak ada yang
    bisa aku lakukan"

    Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. "Maafkan aku. Tapi
    perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"

    Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata "Ahhh...

    Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"

    Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia
    akan menghadapi bahaya sendiri.

    Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap
    tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat
    perangkap tikusnya, ternyata yang terperangkap adalah seekor ular berbisa.
    Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang
    istri pemilik rumah.

    Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri
    terkena gigitan ular tersebut.
    Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya
    sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
    Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau,
    sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam)

    Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
    Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman
    menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya
    untuk mengambil hatinya.

    Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
    Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani
    harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang
    melayat.

    Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa
    hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak
    digunakan lagi.

     

    SUATU HARI..KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN

    DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA .......PIKIRKANLAH SEKALI LAGI


    Sunday, February 21, 2010

    apakah kita berusaha menyenangkan semua orang?

    Ada cerita tentang seorang bapak dengan anak laki-laki dan
    keledainya. Mereka menuntun keledainya hendak ke pasar. Sang bapak
    berjalan di samping, sedang anaknya duduk di atas keledai. Beberapa
    orang yang melihat berkata, "Anak itu tidak memiliki rasa hormat
    kepada orangtua, masak bapaknya berjalan, dianya sendiri naik
    keledai?" Tidak enak mendengar kata-kata itu, sang bapak gantian
    duduk di atas keledai, dan anaknya berjalan. Orang-orang yang melihat
    berkata pula, "Kok tega sekali orangtua itu, enak-enak duduk di atas
    keledai sedang anaknya dibiarkan berjalan?" Mendengar itu, sang bapak
    meminta anaknya duduk di atas keledai bersamanya. Namun, orang-orang
    yang melihat berkata, "Kejam sekali, masak keledai tua begitu
    ditunggangi dua orang?" Bapak dan anak itu pun turun dari keledai dan
    berjalan beriringan. Ternyata omongan orang-orang tidak berhenti
    sampai di situ. Beberapa orang yang melihat mereka berkata pula,
    "Dasar bodoh, punya keledai kok tidak ditunggangi?"

    Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Apabila kita berusaha
    menyenangkan semua orang, seperti bapak-anak dalam cerita di atas,
    kita akan "capek" dan "bingung" sendiri. Panggilan kita hidup di
    dunia ini bukanlah untuk menyenangkan hati manusia, tetapi
    menyenangkan hati Tuhan. Karena itu, standar atau ukuran atas sikap
    dan perilaku kita adalah Tuhan sendiri; apakah sikap dan tindakan
    kita menyenangkan Tuhan.

    Monday, February 15, 2010

    Bertahan Hingga Menang


    Art Berg adalah atlet berbakat yang memiliki masa depan cerah. Ia punya perusahaan konstruksi dan seorang tunangan yang baik dan cantik. Pada malam Natal, dalam perjalanan menuju rumah tunangannya di Utah untuk menuntaskan acara pernikahan mereka. Karena perjalanan panjang, ia lelah dan mengantuk hingga mobilnya menabrak tiang pembatas jalan dan terjun ke jurang. Ia terlempar dari mobil dan jatuh ke tanah dengan leher patah. Akibatnya ia lumpuh dari dada ke bawah dan tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Dokter berkata ia tidak akan pulih dari kelumpuhan. Teman-temannya menasehatinya agar ia melupakan pernikahannya.

    Art Berg takut dan putus asa. Namun ibunya datang dan berbisik, "Nak, hal sulit membutuhkan waktu. Hal mustahil perlu waktu sedikit lebih lama." Karena kata-kata itu, harapannya muncul kembali. Ia berlatih keras hingga akhirnya bisa mandiri. Sebelas tahun kemudian ia kembali memimpin perusahaannya sendiri, bisa menyetir dan berolahraga, serta menikah dengan tunangannya dan punya dua anak. Sekarang ia menjadi pembicara profesional dan penulis buku yang mendorong dan memotivasi banyak orang.

    Kadang-kadang sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Jika Anda saat ini mengalami hal itu, jangan putus asa! Hal sulit membutuhkan waktu. Hal mustahil perlu waktu sedikit lebih lama. Tetapi orang yang bertahan sampai akhir akan menang.


    Ketika kamu mulai mencela

    Dua wartawan perang, ditangkap oleh sekelompok gerilyawan. Lantas,
    mereka dibawa oleh kawanan gerilyawan itu bersembunyi dan masuk ke dalam hutan rimba belantara. Selama ditawan, mereka sebenarnya diperlakukan dengan baik. Para kawanan gerilyawan pun tidak punya niat untuk mencelakakan mereka. Para tawanan ini hanya akan dipakai untuk menekan pihak pemerinta yang tidak mau berunding. Tidak ada
    niat sedikit pun mencelakakan mereka.
    Namun, setelah dikepung berhari-hari oleh tentara pemerintah,  akhirnya pihak kawanan gerilyawan pun memutuskan untuk menyerah. Mereka ditangkap, dan begitu pula kedua wartawan inipun diselamatkan oleh tentara pemerintah dan dibawa pulang.
    Akhirnya, kedua wartawan ini pun kemudian dipulang ke negara mereka masing-masing.
    Lalu, di negara asalnya, wartawan yang satu, mengungkapkan kesannya yang penuh dengan celaan serta kejengkelan selama ia ditawan.  Menurutnya, "Kami harus masuk ke jalan-jalan di hutan yang buruk!  Nyamuknya banyak! Hidup dari buah-buah dan berburu binatang di hutan! Tidur dengan sangat tidak nyenyak." Pokoknya, isinya hanya
    penuh keluh kesah.
     Sementara itu, wartawan yang lainnya mengungkapkan catatan hariannya yang isinya sama sekali berbeda. Menurutnya catatannya, "Betul-betul perjalanan yang menantang. Hidup terasa lebih hidup. Saya merasa seperti menjalani kehidupan seperti jaman dahulu. Berburu binatang  di hutan untuk hidup. Tidur di alam terbuka. Belajar bertahan hidup
    dengan apa yang tersedia di hutan. Sungguh pengalaman yang mendebarkan! "
    Ketika tulisan pengalaman kedua wartawan ini akhirnya dimuat di koran mereka masing-masing, tampaklah betapa berbedanya kedua  wartawan ini melihat pengalaman mereka, dengan kaca mata mereka  masing-masing.
    Pertanyaannya, kalau begitu, siapa diantara kedua wartawan ini yang benar?

    Pesan Moral:
    Ketika kamu mulai mencela, kamu kehilangan kesempatan untuk melihat sesuatu yang indah (Anthony Dio Martin)


     

    Tempat yang Tidak Tergantikan

    Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi,sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.

    Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya.

    Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan.Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.

    Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika
    aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya  ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!

    Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:

    "Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan
    menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk  mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Dad ... "

    Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya
    dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

    Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.

    Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan
    lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

    Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal....

    Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya
    menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad".

    Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.....

    Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis.. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih
    ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!

    Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi.
    Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja,tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.

    Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa
    anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.

    Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?

    Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk mommy......".

    Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?"

    Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak
    itu dan aku mengirimkannya sekaligus".

    Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku
    bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku
    katakan ....

    Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah
    itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi..... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.

    Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......

    'Mommy sayang',

    Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan
    mulai menangis dan merindukanmu lagi.

    Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

    Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis dikamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu.
    Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu.. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?

    Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....

    Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.

    Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.

     




    Perception

    Washington, DC Metro Station on a cold January morning in 2007.
    The man with a violin played six Bach pieces for about 45 minutes. During
    that time approx. 2 thousand people went through the station, most of them
    on their way to work. After 3 minutes a middle aged man noticed there was a
    musician playing. He slowed his pace and stopped for a few seconds and then
    hurried to meet his schedule.
    ( Stasiun Metro , Washington DC , di bulan Januari yang dingin 2007.
    Seorang lelaki dengan biolanya, memainkan 6 lagu Bach +/- 45 menit. Dalam
    kurun waktu itu, sekitar 2rb orang lewat di stasiun, sebagian besar dalam
    perjalanan menuju tempat kerja. Setelah 3 menit, seorang lelaki paruh baya
    tahu bahwa ada seorang musikus yang sedang bermain. Dia memperlambat
    kecepatan jalannya dan berhenti selama beberapa detik, kemudian cepat-cepat
    pergi supaya tidak terlambat.)


    4 minutes later: (4 menit kemudian)

    the violinist received his first dollar: a woman threw the money in the
    hat and, without stopping, continued to walk..
    (pemain biola tersebut menerima dollar pertamanya: seorang wanita
    melemparkannya ke dalam topi tanpa berhenti sambil berjalan.)


    6 minutes: (6 menit kemudian)

    A young man leaned against the wall to listen to him, then looked at his
    watch and started to walk again.
    (seorang pemuda bersandar di tembok untuk mendengarkan, kemudian melihat
    jamnya dan mulai berjalan lagi)


    10 minutes: (10 menit kemudian)

    A 3-year old boy stopped but his mother tugged him along hurriedly. The kid
    stopped to look at the violinist again, but the mother pushed hard and the
    child continued to walk, turning his head all the time. This action was
    repeated by several other children. Every parent, without exception, forced
    their children to move on quickly..
    ( seorang anak kecil usia 3 tahun berhenti, tetapi mamanya cepat-cepat
    menariknya. Si anak berhenti dan melihat pemain biola lagi, tetapi mamanya
    mendorongnya untuk tetap berjalan sambil kepalanya tetap menengok untuk
    beberapa kali.. Ini juga terjadi sama dengan anak-anak lainnya yang oleh
    ortunya dipaksa untuk tetap berjalan cepat)


    45 minutes: (45 menit kemudian)

    The musician played continuously. Only 6 people stopped and listened for a
    short while. About 20 gave money but continued to walk at their normal pace.
    The man collected a total of $32.
    (pemain biola tersebut bermain terus. Hanya 6 orang berhenti dan
    mendengarkan sejenak. Sekitar 20 orang memberi uang dan terus berjalan.
    Total uang 32 dollar)


    1 hour: (1 jam kemudian)

    He finished playing and silence took over. No one noticed. No one applauded,
    nor was there any recognition.
    (Pemain biola selesai bermain dan pergi diam-diam. Tak seorangpun
    memperhatikan. Tak ada tepuk tangan penghargaan juga tak ada yang
    mengenalinya)


    No one knew this, but the violinist was Joshua Bell, one of the greatest
    musicians in the world. He played one of the most intricate pieces ever
    written, with a violin worth $3.5 million dollars. Two days before Joshua
    Bell sold out a theater in Boston where the seats averaged $100.
    (Tak ada yang tahu bahwa pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, salah
    satu musikus besar tingkat dunia. Dia sudah memainkan salah satu karya yang
    rumit dengan biola seharga 3,5 juta dollar. Dua hari sebelumnya, tiket
    konser Joshua Bell di Boston teater terjual habis dimana harga tiket sekitar
    100 dollar)


    This is a true story. Joshua Bell playing incognito in the metro station
    was organized by the Washington Post as part of a social experiment about
    perception, taste and people's priorities. The questions raised: in a common
    place environment at an inappropriate hour, do we perceive beauty? Do we
    stop to appreciate it? Do we recognize talent in an unexpected context?
    (Ini benar2 terjadi. Joshua Bell memainkan incognito di stasiun Metro dalam
    acara yang diorganisasi surat kabar the washington post untuk survey
    mengenai persepsi, citarasa dan prioritas masyarakat. Apakah kita mengenali
    talenta pada situasi yang tak terduga?)


    One possible conclusion reached from this experiment could be this: If we
    do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the
    world, playing some of the finest music ever written, with one of the most
    beautiful instruments ever made.... How many other things are we missing?
    (satu kesimpulan yang diperoleh: Jika kita tidak punya waktu untuk berhenti
    dan mendengarkan salah satu musikus kelas dunia, yang memainkan beberapa
    lagu terbaik yang pernah ditulis, dengan alat musik yang sangat indah....
    berapa lagi yang akan missing dalam hidup kita)


    Suatu renungan dan pengalaman yang bagus. Karena hal ini sering terjadi di
    dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita cenderung untuk mencari sesuatu yang
    spektakuler, atau setidaknya dikenali untuk mengisi hidup kita. Yang harus
    kita ingat adalah, bahwa Tuhan punya segala cara, dan menggunakan segala
    cara, untuk menyapa dan menguatkan kita. Bahkan terkadang tidak sesuai
    dengan apa yang kita pikirkan atau bayangkan. Karena memang Dialah Tuhan.

    *Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,
    demikianlah firman TUHAN.
    Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari
    jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu..