Thursday, August 05, 2010

KEBETULAN

Seorang kenalan menceritakan pengalamannya mencari rumah kontrakan.
   Sudah berminggu-minggu mencari, ia belum juga mendapatkannya.
   Padahal kebutuhan itu mendesak dan sudah menjadi prioritas doanya.
   Suatu saat, seorang kawan meminta bantuannya mengantarkan barang ke
   sebuah alamat. Ketika mengantar barang ke alamat yang dituju, ia
   melihat tanda "DIKONTRAKKAN" pada rumah di sebelah rumah tersebut.
   Begitulah ceritanya ia mengontrak rumah yang dihuninya sekarang.
   Sebuah kebetulan?

   Bahasa Inggris menyebut "kebetulan" sebagai "coincidence". Kata ini
   berasal dari dua kata: "co" (kerja sama) dan "incidence" (kejadian).
   Jadi, kurang lebih berarti ada dua atau lebih kejadian yang "bekerja
   sama" demi mencapai sebuah tujuan. Dalam bahasa sehari-hari kita
   menyebutnya "kebetulan".
   Tuhan adalah Perencana Agung. Setiap kejadian, baik atau buruk, ada
   dalam kendali-Nya. Semua bisa dipakai untuk melayani rencana-Nya
   yang mulia. Sebenarnya arti "kebetulan" bukan kejadian-kejadian yang
   tanpa sengaja bertemu, melainkan justru dengan sengaja dipertemukan
   agar "bekerja sama" demi melayani tujuan lebih besar yang Tuhan
   kehendaki. Demikian hendaknya kita memandang segala kejadian
   sehari-hari dengan iman -—PAD

           APA YANG KITA KIRA SEBAGAI "KEBETULAN" TAK BERSENGAJA
                   ADALAH PENGATURAN TUHAN YANG BERSENGAJA

WASPADAI KUASA ANDA

  Erasmus Darwin seorang penyair Inggris pernah menulis, "Orang yang
  memperbolehkan adanya penindasan, telah membagi-bagikan kejahatan."
  Penindasan ditujukan pada pihak yang lebih lemah karena ada kuasa
  yang lebih besar dari si penindas. Kuasa sendiri pada dasarnya tidak
  memuat sesuatu yang buruk, tetapi jika kuasa dipakai secara negatif,
  kejahatan bisa mulai bersemi dari situ.

  Berhati-hatilah dengan kekuasaan yang saat ini melekat pada diri
  Anda. Hendaknya kita menggunakannya dalam posisi apa pun dan di mana
  pun untuk menyejahterakan sesama, bukan menindas. Ingatlah bahwa ada
  Dia yang mengawasi segalanya. Jangan sampai "tangan yang kuat" itu
  menegur kita --DKL 

                         TUHAN MAHAKUASA
             MAKA TAK ADA GUNANYA MANUSIA SOK KUASA


CERITA BERSAMBUNG

Pada masa kanak-kanak, saya berlangganan majalah Bobo si kelinci.
  Salah satu komik serial di dalamnya berkisah tentang Juwita dan Si
  Sirik. Juwita adalah gadis jelita yang baik budi. Namun, ia selalu
  diganggu oleh Si Sirik, nenek penyihir yang usil dan ada saja ulah
  tingkah jahatnya. Saya heran, pengarang komik itu tak pernah
  kehabisan cerita. Selalu ada cerita baru. Mengapa? Karena ada
  karakter Si Sirik. Sirik artinya iri atau dengki. Iri hati memang
  selalu punya 1.001 alasan untuk memusuhi orang lain. Selalu punya
  cerita untuk menjatuhkan sesama.

  Kedengkian memang induk dari segala kebencian dan
  kejahatan.

  Kedengkian kerap kali tanpa sadar membentuk cara kita berpikir dan
  bertindak. Halus tak kentara, tetapi selalu "bicara". Iri hati
  sering merasuk ke dalam dan merusak persaudaraan.  "Sebab di mana ada iri hati dan
  mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam
  perbuatan jahat" . Jadi, waspadalah! --PAD

         KEBENCIAN MENJADI KISAH BERSAMBUNG YANG TIADA HENTI
              KARENA DIJALIN OLEH BENANG MERAH IRI HATI

HITUNG SAMPAI 10

  Seorang pelayan toko sedang menjawab pertanyaan pelanggan, "Iya, Bu.
  Tetapi itu sudah lama tidak ada." Manajer toko yang kebetulan lewat
  terkejut, dan segera berkata kepada si pelayan, "Apa? Sudah lama
  tidak ada? Maaf, Bu, ia salah. Pasti ada. Ia karyawan baru di sini.
  Ia tidak tahu bahwa toko kami menyediakan semua kebutuhan. Ini toko
  serbaada, Bu. Jadi jangan khawatir, kami pasti punya persediaannya
  di gudang. Sekarang, saya sendiri yang akan mengambilkannya untuk
  Ibu. Apa yang menurutnya sudah lama tidak ada?" Ibu itu menjawab,
  "Kucing liar."

  Cerita di atas pesannya sederhana, jangan terlalu cepat mengambil
  kesimpulan (jump to conclusion). Bertindak tanpa berpikir panjang
  hanya akan menciptakan masalah baru. Lebih dari itu, tindakan
  emosional tidak jarang malah memperlihatkan kebodohan dan kelemahan
  kita sendiri. Selain bisa mencelakakan orang lain, bisa juga
  mencelakakan diri kita sendiri.

   Jadi, baiklah kita mengingat ungkapan sederhana ini, "Sebelum
  mengomentari sesuatu, hitunglah sampai sepuluh". Artinya, pikirkan
  baik-baik sebelum mengambil kesimpulan atau mengutarakan sesuatu.
  Kalau tidak ingin menyesal kelak --AYA

                     BERBICARA TANPA BERPIKIR
                HANYA AKAN MENIMBULKAN PENYESALAN

TIDUR TENTERAM

Tidur, yang bagi sebagian orang adalah hal mudah dan murah, bisa
   menjadi hal yang sulit dan mahal untuk dinikmati bagi sebagian orang
   yang lain. Banyak keadaan dapat membuat kita menjadi sulit tidur.
   Bisa karena adanya penyakit sulit tidur atau insomnia, atau karena
   kita sedang banyak pikiran sebab dirundung oleh situasi yang kita
   anggap genting!

      Bagi Anda, mana yang lebih besar: Tuhan atau masalah yang sedang
   Anda hadapi? Kedamaian hati bukan terletak pada ketiadaan masalah,
   melainkan pada bagaimana kita memandang masalah. Kalau kita
   memandang masalah lebih besar dari Allah, tak heran jika hati
   gundah, hingga tidur pun resah. Sebaliknya, ika iman membuat Anda
   sadar bahwa Tuhan selalu lebih besar dari masalah, Anda akan
   dimampukan untuk bersikap tenang dan merasa tenteram meski sedang di
   tengah badai kehidupan —-DKL

      INGATLAH BAHWA ALLAH SELALU LEBIH BESAR DARI pada MASALAH
           PASTI HATI JADI TENANG, TIDUR PUN TAK GELISAH

KENA BATUNYA

                        
  Pengalaman buruk tertentu bisa membuat orang sentimen setengah mati
  kepada sesuatu atau seseorang. Sebagai contoh, karena pernah ditipu
  orang dari suku tertentu, seseorang menjadi benci pada semua orang
  dari suku itu; gusar pada segala hal yang berbau suku tersebut.
  Padahal itu penyamarataan yang keliru.   

  Dulu, ketika hendak menyerang Yerusalem, Daud pernah dihina orang
  Yebus, penduduk Yerusalem. Mereka menyebutnya pecundang; yang akan
  dikalahkan orang-orang buta dan timpang. Daud pun merasa harga
  dirinya diinjak-injak. Dan sejak itu, ia menjadi benci pada
  orang-orang timpang dan buta (2 Samuel 5:8). Namun, di kemudian
  hari Tuhan mengizinkan sesuatu yang aneh terjadi. Ketika ia bertekad
  memenuhi janji kepada sahabatnya Yonatan yang telah meninggal, yaitu
  menunjukkan kasih kepada keturunannya, dibawalah kepadanya anak
  Yonatan yang bernama Mefiboset yang timpang kakinya! Demi
  membuktikan tekadnya untuk mengasihi, setiap hari Daud makan semeja
  dengannya. Lantas kita katakan: Daud kena batunya.

  Perasaan sentimen bisa jadi cukup akrab dengan kita. Padahal
  perasaan itu menghalangi kita untuk bersikap adil dan mengasihi.
  Sentimen membuat kita cenderung menyamaratakan; pukul rata saja.
  Akibatnya, mungkin ada pihak tak bersalah yang jadi sasaran. Belum
  lagi jika perasaan sentimen itu kita tularkan pada orang-orang di
  sekeliling kita. Semua jadi ikut curiga, takut, dan tendensius
  akibat sebuah sentimen pribadi.

  Mari bersikap lebih jujur dan adil dengan belajar mengatasi sentimen
  pribadi. Tak perlu menunggu sampai Tuhan mengizinkan pengalaman
  serupa Daud terjadi pada kita, bukan? --PAD 

           KASIH KERAP KALI PERLU DITUNJUKKAN DENGAN BUKTI
       KHUSUSNYA PADA ORANG YANG KITA KECUALIKAN UNTUK DIKASIHI


MEMERCAYAKAN DIRI


   Seorang bapak cemas. Pesta pernikahan anaknya akan digelar di alam
   terbuka beberapa hari lagi. Padahal tiap hari turun hujan. Jika
   hujan turun saat pesta berlangsung, semua  acara bisa  berantakan!
   Seorang teman menawarkan solusi. "Pakailah pawang hujan," ujarnya,
   "Serahkan saja kepadanya, semua pasti beres!" Sebagai orang beriman,
   sang bapak menolak. Ia merenung: "Daripada memercayakan diri pada
   pawang, lebih baik aku memercayakan diri kepada Yesus, Raja alam
   raya." Ia pun bertelut. Berserah. Hatinya menjadi tenang. Saat pesta
   berlangsung, cuaca ternyata cerah!

   Beriman berarti memercayakan diri kepada Tuhan dan kuasa-Nya. Orang
   yang beriman harus yakin bahwa Allah ada dan sanggup memberi upah
   kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya.

   Hanya dengan memercayakan diri, kita memperoleh ketenangan. Mengapa
   Anda tidak khawatir menyimpan uang di bank? Karena Anda memercayakan
   diri pada nama baik bank itu. Mengapa Anda tidak khawatir melepas
   anak-anak di sekolah? Karena Anda memercayakan mereka kepada para
   guru. Dengan cara yang sama, percayakanlah diri Anda pada Tuhan!
   Berjalanlah dengan-Nya, maka hati Anda pun tenang —-JTI

         KITA BISA MELANGKAH MANTAP BUKAN KARENA PERCAYA DIRI
                MELAINKAN KARENA MEMERCAYAKAN DIRI