Thursday, June 02, 2011

Arti Menghargai Orang Lain

Seorang akademisi muda yang cerdas membuat aplikasi untuk posisi
manajerial disebuah perusahaan besar. Dia lulus pada interview tahap
pertama, dan tahap selanjutnya adalah interview dengan jajaran direksi.

Sang
direktur menemukan prestasi-prestasi cemerlang dalam CV anak muda
tersebut. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, anak muda
tersebut selalu mendapat peringkat pertama.

Melihat prestasi-prestasi tersebut, sang direktur pun bertanya: "Apakah Anda menerima beasiswa semasa sekolah dan kuliah?"

Anak muda itu menjawab : "Tidak pak....!"

Direktur bertanya lagi : "Apakah ayah Anda yang membayar biaya sekolah Anda?".

Anak muda itu menjawab : "Ayah saya telah meninggal dunia ketika
saya baru berumur satu tahun. Seluruh biaya sekolah saya dibayarkan
oleh Ibu saya.."

Lalu Direktur bertanya lagi : "Di mana ibumu bekerja?"

Dan anak muda itu menjawab : "Ibu saya bekerja sebagai seorang pencuci pakaian..."

Direktur
itu meminta anak muda tersebut untuk menunjukkan tangannya. Dan anak
muda itu memperlihatkan kedua tangannya yang sempurna dengan telapak
tangan yang sangat halus.

Melihat itu Direktur bertanya lagi : "Pernahkah Anda membantu ibu Anda mencuci pakaian sebelumnya?"

Anak
muda itu menjawab : "Tidak pernah pak. Ibu saya selalu menginginkan
saya belajar dan membaca banyak buku. Lagi pula, Ibu mencuci baju jauh
lebih cepat ketimbang saya".

Direktur tersebut kemudian berkata : "Saya punya satu permintaan.
Sekarang anda pulang dan ketika nanti anda sampai di rumah, cuci dan
bersihkan tangan ibumu, kemudian temui saya besok pagi".

Anak
muda tersebut merasa kesempatannya mendapat pekerjaan tersebut sangat
besar. Karena itu ketika dia sampai di rumah, dengan begitu gembira ia
meminta izin kepada ibunya agar ia boleh mencuci tangan beliau.

Ibunya merasa sedikit asing, aneh, juga bahagia dan
perasaan-perasaan lainnya bercampur jadi satu. Sang Ibu kemudian
memberikan kedua tangannya kepada sang anak. Lalu anak muda tersebut
membersihkan tangan Sang Ibu dengan perlahan.

Airmatanya mulai menetes saat itu. Ini pertama kalinya ia menyadari
bahwa tangan ibunya sudah penuh dengan kerutan, dan terdapat banyak
memar dan kapalan di sana sini . Beberapa

memar sepertinya terasa begitu sakit, sampai-sampai Sang Ibu menggigil ketika memar tersebut dibersihkan.

Ini pertama kalinya anak muda tersebut menyadari bahwa kedua tangan
yang sedang dibersihkan inilah yang digunakan Sang Ibu setiap hari
untuk mencuci pakaian banyak orang, sehingga Sang Ibu dapat membiayai
biaya sekolah anaknya.

Memar-memar dan kapalan yang ada di tangan Sang Ibu adalah harga
yang harus dibayar atas kelulusan anak tersebut, atas prestasinya yang
luar biasa, dan untuk masa depannya.

Setelah selesai mencuci
tangan Sang Ibu, anak muda tersebut diam-diam mencuci sisa baju yang
belum sempat dicuci oleh ibunya. Dan malam itu, anak dan ibu tersebut
berbincang sangat lama sekali.

Besok paginya, anak muda tersebut bergegas menemui sang direktur.

Direktur tersebut menangkap airmata di wajah anak muda tersebut.

Ia
pun kemudian bertanya : "Bisa Anda ceritakan apa yang telah Anda
lakukan kemarin dan apa pelajaran yang Anda dapat dari sana ?"

Anak muda tersebut menjawab : "Saya mencuci tangan Ibu saya, dan
kemudian saya menyelesaikan sisa cucian Ibu yang belum tercuci ".

"Tolong ceritakan perasaan Anda ketika itu" ujar Direktur lagi

Lalu anak muda itu menjawab : " Pertama, saya sekarang tahu apa
arti apresiasi. Tanpa ibu saya, tidak akan pernah ada seorang saya hari
ini.

Kedua, saya baru menyadari betapa sulit dan beratnya Ibu
menjalani pekerjaannya. Dan dengan bekerja membantu Ibu, ternyata
pekerjaan itu dapat meringankan beban Ibu.

Ketiga, saya datang hari ini untuk mengapresiasi betapa penting dan bernilainya hubungan keluarga".

Mendengar
itu lalu Direktur tersebut berkata : "Inilah yang saya cari dari
seorang calon manager. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat
mengapresiasi dan menghargai bantuan orang lain, seseorang yang tahu
persis perjuangan orang lain untuk mengerjakan sesuatu, dan seseorang
yang tidak akan menempatkan uang sebagai tujuan hidup satu-satunya.
Oleh karena itu mulai hari ini anda diterima bekerja disini...!".

Ratih Junisari Mangiwa

"Winning horse doesn't know why it runs the race. It runs because of beats & pain.
Life is a race, God is your rider. So if u are in a pain, then think,God want You to win"

(^&^)v  Save a tree. Don't print this e-mail unless it's really necessary 

Tuesday, April 19, 2011

Hal-hal kecil

Pada hari pernikahanku, aku menggendong istriku. Mobil pengantin
berhenti di depan apartment kami. Teman-teman memaksaku menggendong
istriku keluar dari mobil. Lalu aku menggendongnya ke rumah kami. Dia
tersipu malu-malu. Saat itu, aku adalah seorang pengantin pria yang
kuat dan bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari berikutnya berjalan biasa. Kami memiliki seorang anak, aku
bekerja sebagai pengusaha dan berusaha menghasilkan uang lebih. Ketika
aset-aset perusahaan meningkat, kasih sayang diantara aku dan istriku
seperti mulai menurun. Istriku seorang pegawai pemerintah. Setiap pagi
kami pergi bersama dan pulang hampir di waktu yang bersamaan. Anak kami
bersekolah di sekolah asrama. Kehidupan pernikahan kami terlihat sangat
bahagia, namun kehidupan yang tenang sepertinya lebih mudah terpengaruh
oleh perubahan-perubahan yang tak terduga.

Lalu Jane datang ke dalam kehidupanku. Hari itu hari yang cerah. Aku
berdiri di balkon yang luas. Jane memelukku dari belakang. Sekali lagi
hatiku seperti terbenam di dalam cintanya. Apartment ini aku belikan
untuknya. Lalu Jane berkata, "Kau adalah laki-laki yang pandai memikat
wanita." Kata-katanya tiba-tiba
mengingatkan ku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku
berkata "Laki-laki sepertimu, ketika sukses nanti, akan memikat banyak
wanita." Memikirkan hal ini, aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu, aku
telah mengkhianati istriku.

Aku menyampingkan tangan Jane dan berkata, "Kamu perlu memilih
beberapa furnitur, ok? Ada yang perlu aku lakukan di perusahaan." Dia
terlihat tidak senang, karena aku telah berjanji akan menemaninya
melihat-lihat furnitur. Sesaat, pikiran untuk bercerai menjadi semakin
jelas walaupun sebelumnya tampak mustahil. Bagaimanapun juga, akan
sulit untuk mengatakannya pada istriku. Tidak peduli selembut apapun
aku mengatakannya, dia akan sangat terluka. Sejujurnya, dia adalah
seorang istri yang baik. Setiap malam, dia selalu sibuk menyiapkan
makan malam. Aku duduk di depan televisi. Makan malam akan segera
tersedia. Kemudian kami menonton TV bersama. Hal ini sebelumnya
merupakan hiburan bagiku.

Suatu hari aku bertanya pada istriku dengan bercanda, "Kalau misalnya
kita bercerai, apa yang akan kamu lakukan?" Dia menatapku beberapa saat
tanpa berkata apapun. Kelihatannya dia seorang yang percaya bahwa
perceraian tidak akan datang padanya. Aku tidak bisa membayangkan
bagaimana reaksinya ketika nanti dia tahu bahwa aku serius tentang ini.
Ketika istriku datang ke kantorku, Jane langsung pegi keluar. Hampir
semua pegawai melihat istriku dengan pandangan simpatik dan mencoba
menyembunyikan apa yang sedang terjadi ketika berbicara dengannya.
Istriku seperti mendapat sedikit petunjuk. Dia tersenyum dengan lembut
kepada bawahan-bawahanku. Tapi aku melihat ada perasaan luka dimatanya.

Sekali lagi, Jane berkata padaku, "Sayang, ceraikan dia, ok? Lalu kita
akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak bisa ragu-ragu
lagi. Ketika aku pulang malam itu, istriku sedang menyiapkan makan
malam. Aku menggemgam tangannya dan berkata, " Ada yang ingin aku
bicarakan."Dia kemudian duduk dan makan dalam diam. Lagi, aku melihat
perasaan luka dari matanya. Tiba-tiba aku tidak bisa membuka mulutku.
Tapi aku harus tetap
mengatakan ini pada istriku. Aku ingin bercerai. Aku memulai
pembicaraan dengan tenang.

Dia seperti tidak terganggu dengan kata-kataku, sebaliknya malah
bertanya dengan lembut, "Kenapa?" Aku menghindari pertanyaannya. Hal
ini membuatnya marah. Dia melempar sumpit dan berteriak padaku, "Kamu
bukan seorang pria!" Malam itu, kami tidak saling bicara. Dia menangis.
Aku tahu, dia ingin mencari
tahu apa yang sedang terjadi di dalam pernikahan kami. Tapi aku sulit
memberikannya jawaban yang memuaskan, bahwa hatiku telah memilih Jane.
Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya mengasihaninya! Dengan perasaan
bersalah, aku membuat perjanjian perceraian yang menyatakan bahwa
istriku bisa memiliki rumah kami, mobil kami dan 30% aset perusahaanku.

Dia melirik surat itu dan kemudian merobek-robeknya. Wanita yang telah
menghabiskan 10 tahun hidupnya denganku telah menjadi seorang yang
asing bagiku. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu, daya dan
tenaganya tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yang telah aku
katakan karena aku sangat mencintai Jane. Akhirnya istriku menangis
dengan keras di depanku, yang telah aku perkirakan sebelumnya. Bagiku,
tangisannya adalah semacam pelepasan. Pikiran tentang perceraian yang
telah memenuhi diriku selama beberapa minggu belakangan, sekarang
menjadi tampak tegas dan jelas.

Hari berikutnya, aku pulang terlambat dan melihat istriku menulis
sesuatu di meja makan. Aku tidak makan malam, tapi langsung tidur dan
tertidur dengan cepat karena telah seharian bersama Jane. Ketika aku
terbangun, istriku masih disana, menulis. Aku tidak
mempedulikannya dan langsung kembali tidur. Paginya, dia menyerahkan
syarat perceraiannya: Dia tidak menginginkan apapun dariku, hanya
menginginkan perhatian selama sebulan sebelum perceraian. Dia meminta
dalam 1 bulan itu kami berdua harus berusaha hidup sebiasa mungkin.
Alasannya sederhana : Anak kami sedang menghadapi ujian dalam sebulan
itu, dan dia tidak mau mengacaukan anak kami dengan perceraian kami.

Aku setuju saja dengan permintaannya. Namun dia meminta satu lagi, dia
memintaku untuk meingat bagaimana menggendongnya ketika aku membawanya
ke kamar pengantin, di hari pernikahan kami. Dia memintanya selama 1
bulan setiap hari, aku menggendongnya keluar dari kamar kami, ke pintu
depan setiap pagi. Aku pikir dia gila. Aku menerima permintaannya yang
aneh karena hanya ingin membuat hari-hari terakhir kebersamaan kami
lebih mudah diterima olehnya. Aku memberi tahu Jane tentang syarat
perceraian dari istriku. Dia tertawa keras dan berpikir bahwa hal itu
berlebihan. "Trik apapun yang dia gunakan, dia harus tetap menghadapi
perceraian!", kata Jane, dengan nada menghina.

Istriku dan aku sudah lama tidak melakukan kontak fisik sejak
keinginan untuk bercerai mulai terpikirkan olehku. Jadi, ketika aku
menggendongnya di hari pertama, kami berdua tampak canggung. Anak kami
tepuk tangan di belakang kami. Katanya, "Papa menggendong mama!" Kata-
katanya membuat ku merasa terluka. Dari kamar ke ruang tamu, lalu ke
pintu depan, aku berjalan sejauh 10 meter, dengan dirinya dipelukanku.
Dia menutup mata dan berbisik padaku, "Jangan bilang anak kita mengenai
perceraian ini." Aku mengangguk, merasa sedih. Aku menurunkannya di
depan pintu. Dia pergi untuk menunggu bus untuk bekerja. Aku sendiri
naik mobil ke kantor.

Hari kedua, kami berdua lebih mudah bertindak. Dia bersandar di
dadaku. Aku bisa mencium wangi dari pakaiannya. Aku tersadar, sudah
lama aku tidak sungguh-sungguh memperhatikan wanita ini. Aku sadar dia
sudah tidak muda lagi, ada garis halus di wajahnya, rambutnya memutih.
Pernikahan kami telah membuatnya susah. Sesaat aku terheran, apa yang
telah aku lakukan padanya.

Hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku merasa rasa kedekatan
seperti kembali lagi. Wanita ini adalah seorang yang telah memberikan
10 tahun kehidupannya padaku. Hari kelima dan keenam, aku sadar rasa
kedekatan kami semakin bertumbuh. Aku tidak mengatakan ini pada Jane.
Seiring berjalannya waktu semakin mudah menggendongnya. Mungkin
karena aku rajin berolahraga membuatku semakin kuat.

Satu pagi, istriku sedang memilih pakaian yang dia ingin kenakan. Dia
mencoba beberpa pakaian tapi tidak menemukan yang pas. Kemudian dia
menghela nafas, "Pakaianku semua jadi besar." Tiba-tiba aku tersadar
bahwa dia telah menjadi sangat kurus. Ini lah alasan aku bisa
menggendongnya dengan mudah. Tiba-tiba aku terpukul. Dia telah memendam
rasa sakit dan kepahitan yang luar biasa di hatinya. Tanpa sadar aku
menyentuh kepalanya.

Anak kami datang saat itu dan berkata, "Pa, sudah waktunya menggendong
mama keluar." Bagi anak kami, melihat ayahnya menggendong ibunya keluar
telah menjadi arti penting dalam hidupnya. Istriku melambai pada anakku
untuk mendekat dan memeluknya erat. Aku mengalihkan wajahku karena
takut aku akan berubah pikiran pada saat terakhir. Kemudian aku
menggendong istriku, jalan dari kamar, ke ruang tamu, ke pintu depan.
Tangannya melingkar di leherku dengan lembut. Aku menggendongnya dengan
erat, seperti ketika hari pernikahan kami. Tapi berat badannya yang
ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya,
sulit sekali bagiku untuk bergerak. Anak kami telah pergi ke sekolah.
Aku menggendongnya dengan erat dan berkata, "Aku tidak memperhatikan
kalau selama ini kita kurang kedekatan."

Aku pergi ke kantor, keluar cepat dari mobil tanpa mengunci pintunya.
Aku takut, penundaan apapun akan mengubah pikiranku. Aku jalan keatas,
Jane membuka pintu dan aku berkata padanya, "Maaf, Jane, aku tidak mau
perceraian." Dia menatapku, dengan heran menyentuh keningku. "Kamu
demam?", tanyanya. Aku menyingkirkan tangannya dari kepalaku. "Maaf,
Jane, aku bilang, aku tidak akan bercerai." Kehidupan pernikahanku
selama ini membosankan mungkin karena aku dan istriku tidak menilai
segala detail kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai.
Sekarang aku sadar, sejak aku menggendongnya ke rumahku di hari
pernikahan kami, aku harus terus menggendongnya sampai maut memisahkan
kami.

Jane seperti tiba-tiba tersadar. Dia menamparku keras kemudian
membanting pintu dan lari sambil menangis. Aku turun dan pergi keluar.
Di toko bunga, ketika aku berkendara pulang, aku memesan satu buket
bunga untuk istriku. Penjual menanyakan padaku apa yang ingin aku tulis
di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, aku akan menggendongmu setiap
pagi sampai maut memisahkan kita.

Sore itu, aku sampai rumah, dengan bunga di tanganku, senyum di
wajahku, aku berlari ke kamar atas, hanya untuk menemukan istriku
terbaring di tempat tidur - meninggal. Istriku telah melawan kanker
selama berbulan-bulan dan aku terlalu sibuk dengan Jane sampai tidak
memperhatikannya. Dia tahu dia akan segera meninggal, dan dia ingin
menyelamatku dari reaksi negatif apapun dari anak kami, seandainya kami
jadi bercerai. -- Setidaknya, di mata anak kami --- aku adalah suami
yang penyayang.

Hal-hal kecil di dalam kehidupanmu adalah yang paling penting dalam
suatu hubungan. Bukan rumah besar, mobil, properti atau uang di bank.
Semua ini menunjang kebahagian tapi tidak bisa memberikan kebahagian
itu sendiri. Jadi, carilah waktu untuk menjadi teman bagi pasanganmu,
dan lakukan hal-hal yang kecil bersama-sama untuk membangun kedekatan
itu. Miliki pernikahan yang sungguh-sungguh dan bahagia.


Ratih Junisari Mangiwa

"Winning horse doesn't know why it runs the race. It runs because of beats & pain.
Life is a race, God is your rider. So if u are in a pain, then think,God want You to win"

(^&^)v  Save a tree. Don't print this e-mail unless it's really necessary 

Sunday, December 12, 2010

"Kalau Ada Waktu" buat anak-anak

Malam ini nampaknya akan jadi salah satu malam tersibuk,
karena saya harus menyelesaikan finishing 4 buku di satu malam di rumah.
Segala rencana sudah disiapkan, jam berapa sampai jam berapa mengerjakan yang mana dan seterusnya
sehingga sebelum tengah malam bisa selesai. Begitu rencananya.

Tiba tiba si bungsu Adam datang dan minta ditemani untuk melatih speed lari menggunakan treadmill.
Karena memang pelatih bola menganjurkan Adam berlatih speed, saya menemani Adam latihan, meninggalkan kerja.
Saya tidak mau menunda, mumpung ia sedang semangat dan untuk jaga momentum.
Sesekali saya perhatikan waktu, nampaknya masih cukup.

Setelah selesai dan sama-sama kelelahan, saya mulai duduk depan komputer dan siap bekerja mengejar target.
Belum lama berselang, setelah mengganti bajunya yang basah kuyup, Adam datang lagi ke kamar kerja,
kali ini minta diajarkan matematika, pecahan, desimal, persen, dll.
Sekali lagi saya tunda kerja, dan coba menerangkan sebaik mungkin cara mudah agar Adam bisa mengerti.
Sesekali saya perhatikan waktu, nampaknya masih bisa dikejar.

Belum selesai menemani Adam belajar, kali ini si sulung Salsa datang.
Ia mengajak diskusi tentang proyek presentasinya atau proyek workshop dari sekolah.
Kami berdiskusi cukup lama, apakah sebaiknya menggunakan power point atau movie maker,
bagaimana menentukan tema dan angle menarik dari workshopnya.
Selama diskusi, Adam sesekali menyelak untuk bertanya soal-soal matematika yang tidak dimengertinya.

Tanpa terasa (sebenarnya terasa sih), waktu sudah menjelang tengah malam, dan anak-anak harus tidur,
dan tidak satupun pekerjaan yang harus saya kerjakan sempat terpegang.
Nampaknya semua rencana tidak berjalan.
Dan saya mengantarkan anak-anak tidur.
Maklumlah, ibunya anak-anak sedang di luar kota, jadi malam ini saya urus anak-anak.
Selepas mereka tidur, saya baru bisa mulai bekerja dan tidak tidur sampai subuh.

Ada saat rasanya ingin mengatakan, "Please I'm busy" atau " Saya sedang sibuk, jangan diganggu!" dsb
Tapi saya memilih untuk membiarkan anak-anak mengganggu saya bekerja.

Seringkali orang tua berkata "Saya sibuk" ketika diganggu anak-anaknya.
Bahkan ada yang marah ketika diganggu saat bekerja di rumah.

Daripada menolak keinginan anak yang membutuhkan waktu saya,
saya memilih untuk menunda waktu kerja untuk anak-anak dan mengorbankan waktu tidur sebagai gantinya.
Kenapa? Karena rasanya tidak fair, waktu siang kita bekerja anak-anak sudah tidak bisa bertemu,
dan ketika malam pun pekerjaan mengambil waktu anak-anak kita.

Saya selalu ingat "Why"
Salah satu alasan kenapa saya harus bekerja, harus lembur mengejar target kerja adalah
agar anak-anak lebih sejahtera dan bahagia.
Agar ketika sejahtera, saya punya waktu bebas bersama anak-anak.
Jadi tidak fair rasanya kalau saya harus korbankan anak-anak karena sesuatu yang saya lakukan untuk MEREKA juga.
Karena anak-anak adalah "WHY" atau salah satu alasan saya bekerja,
jadi saya tidak mau membalik mengorbankan mereka karena pekerjaaan.

Tapi ini bukan berarti Anda tidak bekerja profesional.
Saya tetap mengejar target, hanya saja saya korbankan waktu tidur, bukan waktu bersama anak-anak.
Kadang-kadang memang harus demikian.

Salah satu yang paling dibutuhkan anak dari orang tua adalah "WAKTU"
Paling ideal adalah memberikan KWANTITAS dan KUALITAS WAKTU.
Kalaupun belum sanggup minimal KUALITAS WAKTU.
Waktu berkualitas adalah PERHATIAN.
Di antara kebutuhan waktu tersebut ada yang disebut MOMENTUM.
Hadiah waktu terbaik adalah MOMENTUM yang TEPAT.
Dan MOMENTUM yang tepat adalah saat mereka MEMBUTUHKAN.
Kapan saat anak-anak membutuhkan ORANG TUA, ya saat mereka meminta dan datang kepada kita.

Karena itulah saya sering meninggalkan kesibukan jika MOMENTUM kebutuhan anak datang.
Karena HADIAH terbaik adalah hadiah yang diberikan saat dibutuhkan.

Seringkali dalam seminar dan workshop motivasi saya tekankan:
"Segeralah kaya ketika muda. Segeralah sejahtera ketika anak-anak masih kecil"
Kenapa? Karena mereka butuh waktu kita ya saat mereka masih kecil.
Jangan tunggu punya kebebasan waktu ketika pensiun, atau makmur ketika tua.
Karena ketika tua mereka sudah punya teman, sudah punya organisasi dan sudah sibuk dengan dirinya sendiri.
Jangan disaat mereka sudah matang dan sibuk kita malah mengganggu mereka.
Apalagi kalau menunggu tua baru punya waktu, mungkin kesehatan kita juga sudah parah.

Karena itu, BUAT WAKTU untuk anak anak. Jangan KALAU ADA WAKTU.
Kalau kesejahteraan finansial belum cukup maka berikan WAKTU.
Waktu yang Anda miliki, dengan waktu yang dimiliki orang terkaya di dunia jumlahnya sama, 24 jam sehari.
Gunakan kekuatan WAKTU untuk membahagiakan anak.
Jangan katakan KALAU ADA waktu, karena SELALU SAJA ADA KESIBUKAN.
Waktu HARUS DISEDIAKAN, dan DISIAPKAN dan DIJATAHKAN untuk anak-anak kita.



(Wisdom Diary)


Ratih Junisari Mangiwa

"Winning horse doesn't know why it runs the race. It runs because of beats & pain.
Life is a race, God is your rider. So if u are in a pain, then think,God want You to win"

(^&^)v  Save a tree. Don't print this e-mail unless it's really necessary 

Sunday, November 07, 2010

Hidup bukan masalah yg harus dipecahkan, tapi sebuah kenyataan yg harus dijalani.

Suatu ketika ada sebuah kapal yg tenggelam diterjang badai. Tak ada yg tersisa
kecuali 1 orang awak kapalnya. Dia terdampar pd sebuah pulau kecil tak
berpenghuni, sendirian dan tak punya bekal makanan. Dia mulai mencari dan
menyusun kayu beserta pelepah nyiur untuk dibangun menjadi sebuah gubuk kecil
sbg tempat bernaungnya sambil membuat perapian penghangat badan. Keesokan
harinya dia mulai mencari buah2an untuk mengganjal perutnya yg lapar. Namun
sesampainya kembali ke gubuknya, dia mendapati gubuknya itu sdh hangus terbakar
tanpa tersisa rata dng tanah. Rupanya dia lupa mematikan perapian yg dibuatnya
semalam. Diapun berteriak marah, " Ya Tuhan, mengapa Kau lakukan ini padaku.
Mengapa ??!!.. Tiba2 terdengar suara peluit kapal. Ternyata ada sebuah kapal
laut yg sedang datang mendekat ke arah pantai. Lalu turunlah beberapa orang
menghampiri pria yg sedang menangisi nasibnya td. Pria itu terkejut dan
bertanya, "Bagaimana kalian bisa tahu kalo aku ada disini ??. Mereka menjawab,"
Kami melihat simbol asapmu !!..

Pesan cerita :
Tuhan selalu ada pada hati kita walau dalam keadaan yg paling berat sekalipun.
Jika doa kita dijawab YA oleh Tuhan, maka kita akan mendapatkan apa yg kita mau.

Jika jawabannya TIDAK, maka kita akan mendapat pengganti yg lebih baik.
Jika jawabannya TUNGGU, maka kita akan mendapat YANG TERBAIK sesuai dng
kehendakNYA.

Hidup bukan masalah yg harus dipecahkan, tapi sebuah kenyataan yg harus
dijalani.



Ratih Junisari Mangiwa

(^&^)v  Save a tree. Don't print this e-mail unless it's really necessary 

Tuesday, November 02, 2010

apakah kita kuat?

Di sebuah hutan, terdapat seekor monyet yang kuat dan ahli dalam memanjat. Suatu saat sang monyet memanjat pohon yang paling tinggi di hutan tersebut. Monyet itu akan mempelihatkan kekuatannya kepada banyak monyet yang sedang menatap dirinya.

Dengan cepat dan tangkas monyet itu memanjat pohon itu. Dari dahan ke dahan lainnya, monyet itu memanjat dan melompat dengan gerakan indah, hingga tidak membutuhkan waktu lama sang monyet untuk mencapai puncak pohon.

Dengan bangga sang monyet menepuk-nepuk dadanya, menunjukan bahwa dirinya adalah yang terhebat. Monyet-monyet lainnya pun berteriak-berteriak menunjukan bahwa mereka takjub dengan kemampunnya.

Pada saat itu juga, tiba-tiba cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi galap dan mendung. Gemuruh langit terdengar, rintik-rintik hujan turun tak lama, langsung disusul lebatnya hujan badai. Para monyet belarian menuju sarang-sarang mereka untuk berteduh, kecuali satu monyet yang memanjat pohon, dia berpegang dengan erat batang pohon yang ia panjat. Menahan hujan badai yang terus saja menghantamnya, yang seolah-olah berusaha menjatuhkannya.

"Aku harus kuat, karna aku adalah monyet terkuat di hutan ini!" pikirnya sambil menahan kuatnya hembusan angin dan dinginnya hujan. Banyak pohon berjatuhan karena badai mematahkan batang-batangnya. Sang monyet beruntung karena berada di pohon yang tinggi dan kuat. Tak jarang sang monyet hampir jatuh karena pohon itu berayun-ayun dengan kuat, akan tetapi sang monyet sanggup bertahan.

Sejam telah berlalu, akhirnya badai reda. Cahaya matahari yang hangat mulai menyinari hutan kembali. Hewan-hewan pun sudah keluar dari sarangnya, termasuk para monyet yang keluar untuk melihat kondisi temannya yang sedang memanjat itu. Sungguh menajubkan, monyet itu masih bertahan di puncak pohon tertinggi tersebut. "Ha ha ha, memang aku monyet terkuat di hutan ini. Hujan badai saja ta sanggup menjatuhkanku. Ha ha ha…" Pekiknya dengan bangga sambil menepuk-nepuk dadanya.

Tak lama kemudian, angin sepoy-sepoy berhembus dengan hembusan lembut. Hembusan tersebut menyentuh seluruh badan sang monyet dengan halus dengan sinar matahari yang hangat. Sang monyet merasa nyaman dengan angin sepoy-sepoy hangat itu. Terasa bagaikan angin dari surga, setelah satu jam lamanya menahan hantaman hujan badai.
Tak terasa, mata sang monyet mulai menyipit sedikit demi sedikit. Genggaman kuatnya tak tersasa mulai mengendur. Ototnya yang menegang, perlahan-lahan mulai melemah. Dan bisa ditebak, sang monyet itu langsung tertidur.

Tak lama kemudian sang monyet itu bangun, dengan badan penuh luka. Dia baru sadar bahwa dia terjatuh ketika ia tertidur diatas pohon. Dan yang paling menyakitkan adalah ternyata dia telah dijatuhkan dengan mudah oleh angin-angin sepoi-sepoi
itu.

~~~

Teman-teman yang tersayang....
 
Mungkin banyak dari diri kita ini merasa kuat dengan berbagai ujian berupa kesempitan, kelaparan, kesusahan, seperti badai hujan yang selalu menimpa diri kita.


Akan tetapi banyak dari diri kita ini lemah dan tidak kuat terhadap ujian berupa kesenangan, harta, jabatan, seperti hembusan angin sepoi-sepoi hangat yang melenakan, sehingga membuat kita tertidur. Dan tanpa sadar kita ternyata sudah terjatuh.

Semua keadaan di muka bumi ini pada hakekatnya adalah sebuah ujian. Apakah kita kuat dan sabar ketika diberi musibah? Dan apakah kita terlena ketika kita diberi kesenangan?


Monday, November 01, 2010

MEMBERI TANPA PAMRIH

  Di sebuah lembah sebelah utara pegunungan Alpen, Jerman, ada
  sebuah biara terkenal, namanya Maulbronn. Sejarah panjangnya bisa
  ditelusuri sejak tahun 1147. Pada 1993, oleh UNESCO, tempat tersebut
  diangkat sebagai salah satu warisan budaya dunia. Salah satu yang
  terkenal dari biara ini adalah sebuah mata air yang keluar dari sisi
  sebuah bukit. Aliran air tersebut dialirkan melalui sebatang pohon
  yang sudah terlebih dahulu dikosongkan, sehingga berbentuk pipa.
  Batangan pohon tersebut bersambung dengan batangan pohon lain.
  Begitu seterusnya. Derasnya aliran air membuat suara gemericik air
  menjadi salah satu atraksi tersendiri di sana.

  Di samping rangkaian batang pohon itu terdapat sebuah tulisan dalam
  bahasa Jerman, yang artinya: "Jika ada orang yang datang dan meminum
  air ini, apakah mereka akan berterima kasih? Tetapi, tidak apa-apa,
  bagaimanapun saya akan terus mengalir dan bergemericik. Betapa indah
  dan sederhananya hidup saya: saya memberi dan terus memberi."

  Berbuat baik kepada sesama tanpa memperhitungkan balas jasa atau pun
  ucapan terima kasih adalah salah satu aspek dari kemurahan hati.
 

         BERBUAT BAIK KEPADA ORANG LAIN ITU TINDAKAN TERPUJI

Sunday, October 24, 2010

TETAP MENJADI BERKAT


Opa Lukas sudah hampir delapan puluh tahun usianya, tetapi masih  tampak sangat sehat untuk orang sebayanya. Setiap hari ia selalu  jalan pagi atau berenang selama 15-30 menit. Tidak pernah absen ke  gereja, kecuali sedang sakit. Aktif di Persekutuan Lansia di gereja.  Ramah, murah senyum, suka humor. Pernah ia sakit dan dirawat  seminggu di rumah sakit, dan selama ia di situ hampir semua perawat  dan dokter di rumah sakit mengenalnya. Ketika sudah cukup kuat  berjalan, ia mengunjungi pasien lain, sekadar menyapa dan mendoakan.  Kalau ditanya, apa resepnya hingga tetap sehat dan bersemangat, maka  jawabnya, "Semua berkat Tuhan. Opa selalu memanjatkan syukur kepada  Tuhan."

 

Sudah lama para ahli sepakat, bahwa ada korelasi yang erat antara  hubungan dengan Tuhan dan hidup sehat. Di Inggris pernah dilakukan  survei kepada para lansia. Hasilnya, kakek nenek yang hidupnya dekat  dengan Tuhan; rajin membaca Alkitab, berdoa dan beribadah, umumnya  mereka lebih bisa bersukacita dan bersyukur dalam hidupnya. Secara  fisik pun mereka lebih sehat, tidak rewel, dan lebih mampu  bersosialisasi.

 

Hal yang sama dikatakan oleh pemazmur ,  bahwa orang benar-yaitu mereka yang hidupnya dekat dengan Tuhan  , akan bertunas seperti pohon korma dan akan tumbuh subur  seperti pohon aras Libanon ). Pohon korma adalah pohon yang  ketika semakin tua, buahnya semakin manis. Sedang pohon aras  Libanon, semakin tua batangnya semakin bagus untuk dibuat mebel.  Artinya, mereka akan senantiasa menjadi berkat, bahkan sampai masa  tuanya --AYA

 

HIDUP DEKAT DENGAN TUHAN SUNGGUH MENYEHATKAN TAK HANYA JIWA, TETAPI JUGA RAGA



Ratih Junisari Mangiwa

(^&^)v  Save a tree. Don't print this e-mail unless it's really necessary