Wednesday, February 28, 2007
KATA-KATA KASAR
Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
"Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya.
Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda."
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan.
Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita
memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.
Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya.
Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.
"Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.
Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur,
dengan halus Tuhan berbicara padaku,
"Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan,
tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.
Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."
"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru.
Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu,
dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."
Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.
Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak,
bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?"
Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. "
"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."
Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu;
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."
Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini,
apalagi yang biru."
Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita
bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari?
Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri,
suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?
Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?
Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.
cinta
Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai. Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. "Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia" Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir. "Maaf, apakah aku harus berhenti?" tanyanya. "Oh tidak, lanjutkan" jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia "Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu". Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang" Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya, Ia menunduk dan menangis. Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita? Kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk. Cinta tak pernah memandang kekurangan orang yang kita sayangi dan kita cintai. Cinta hanya akan membawa kebahagian dan saling berbagi untuk memahami kekurangan masing-masing. mencintai dengan apa adanya. Cinta tak pernah menyakiti, yang sebenarnya adalah menambah kedewasaan dan cara berpikir kita untuk memandang hidup, sebagai kasih karunia Tuhan yang terbaik. Cintailah semua makhluk dengan harapan semua berbahagia.
Wednesday, February 07, 2007
sifat RELA
Ada sebuah perusahaan besar di Indonesia (anda tahu Astra Internasional bukan?) yg sedang mencari karyawan. Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus utk dijawab: Anda sedang mengendarai motor ditengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yg penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yg saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga Anda melewati sebuah perhentian Bis satu-satunya didaerah itu. Di perhentian Bis itu Anda melihat 3 orang yg merupakan orang terakhir di daerah itu yg sedang menunggu kedatangan Bis : - Seorang nenek tua yg sekarat - Seorang dokter yg pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya. - Seseorang yg selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda temukan Anda hanya bisa mengajak satu orang utk membonceng Anda, siapakah yg! akan Anda ajak ? Dan jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu. Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yg perlu Anda pertimbangkan: Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat.Jika tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalo dipikir-pikir, orang yg sudah tua memang sudah mendekati ajalnya. Sedangkan yg lainnya masih sangat muda dan harapan hidup kedepannya masih panjang. Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yg tepat utk membalas budi kepadanya. Tapi kalo dipikir, kalo sekedar membalas budi bisa lain waktu khan. Namun,kita tidak akan pernah tau kapan kita mendapatkan kesempatan itu lagi. Mendapatkan idaman hati adalah hal yg sangat langka. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan impian Anda akan kandas selamanya. Jadi yg mana yg Anda pilih ? Jawab dulu sesuai naluri, nalar & kata hati anda dulu...Baru buka contekannya dibawah ini. Untuk direnungkan saja (ndak usah serius-serius amat): Dari sekitar 2000-an orang pelamar hanya 1 orang yg diterima bekerja di perusahaan itu. Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat : "Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia utk membawa nenek tua yg sedang sekarat tersebut utk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal disana dengan sang idaman hati saya utk menunggu Bis kembali menolong kami." Maka sang HRD yg mulai kecewa dgn hasil seleksinya (sebab byk yg gagal dan penjelasannya tidak memuaskan, egois, tidak perduli sesama dsb.) akhirnya lega sekali. Tugasnya selesai... sudah ditemukannya sang calon karyawan tersebut. Dan diterimanyalah calon karyawan tsb dan langsung mendapat "kualifikasi smart & brilliant employee, prospectfull career". Anda tau nasib sang karyawan tadi?....Sekarang dia sudah menjadi orang sukses Menperindag Indonesia. Ya dia......si "Rini Suwandi"... MESSAGE: Terkadang...dengan rela utk melepaskan sesuatu yg kita miliki, mengakui segala keterbatasan yg kita miliki dan melepaskan semua keinginan kita utk sesuatu yg lebih mulia, kita akan mendapatkan sesuatu yg jauh lebih besar......dan lebih hmmm.....
Dahulu, ada seorang pengusaha yang cukup berhasil di kota ini. Ketika sang suami jatuh sakit, satu per satu pabrik mereka dijual. Harta mereka terkuras untuk berbagai biaya pengobatan. Hingga mereka harus pindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana. Sang suami pun telah tiada.
Beberapa tahun kemudian, rumah makan itu pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil sebelah pasar.
Setelah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang istri dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota. Cucunya sudah beberapa. Orang-orang pun masih mengenal masa lalunya yang berkelimpahan. Namun, ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli.
Wahai ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?
"Harapan nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar, karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu kita tak kan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia".
Wednesday, January 24, 2007
Para Ayah, Di Manakah Kalian?
Kepulangan suami berlibur selama 3 minggu membawa perubahan yang cukup signifikan dalam pertumbuhan anak-anak saya.
Saya bertiga dengan anak-anak yang sulung putri berusia 4 tahun dan putri kedua berusia 2 tahun, harus berpisah jarak selama satu tahun.
Kedua anak saya lahir di Kyoto dan Yokohama. Ketika putri pertama berusia 3 tahun,
kami memutuskan untuk memulangkan saya dan anak-anak ke tanah air lebih awal karena alasan dinas kantor tempat saya bekerja, sedangkan suami harus melanjutkan studi doktornya selama 1 tahun lagi di Jepang. Awal saya mengamati pertumbuhan anak-anak yang jauh dari ayahnya, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Justru yang saya amati terdapat perbedaan adalah anak kedua, dimana pada masa pertumbuhan dari umur setahun menuju dua tahun,
dia tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Berbeda dengan si sulung, yang ketika lahir, keluar dari rahim ibunya, ayahnya sudah menantikan tepat saat dia hadir di dunia ini, ketika dia bayi, dimandikan ketika dia belajar duduk, merangkak dan berjalan dibawah tatapan mata sang ayah.
Bahkan ketika dia mulai mengatakan kata-kata pertamanya.
Ketika saya harus sibuk dengan riset di lab, dia akan tidur bersama ayahnya, dirawat, mandi ganti popok, disuapin dan bermain dengan ayahnya.
Begitu banyak interaksi dengan sang ayah. Alhamdulillah dia tumbuh menjadi anak yang riang, pemberani, mandiri bahkan istilah "hitomishiri" (alert terhadap orang lain/asing) tidak dialami.
Ikatan emosional dengan sang ayah pun terjalin dengan kuat. Dan saya pun memperlakukannya sejak awal bukan sebagai bayi karena kemandiriannya.
Dia tumbuh menjadi teman, adik, rival bahkan terkadang kakak yang menggurui ibunya.
Banyak kenangan dan momen dia lalui bersama sang ayah tercinta. Anak yang kedua, banyak sekali momen-momen pertumbuhannya tanpa kehadiran sang ayah.
Ketika dia belajar merangkak, saat umur 6 bulan, sang ayah harus pergi keluar kota karena melakukan eksperimen lab selama 2 minggu di bagian Jepang utara.
Dan selama waktu 2 minggu itu pula, bidadari kecil ini mampu merangkak merayap mengikuti jejak-jejak kaki dari satu ruangan ke ruangan lain.
Ketika dia belajar berjalan, jatuh dan bangkit kembali, sang ayah pun melewatkan masa-masa ini.
Begitu banyak pertumbuhan dalam jangka waktu setahun dan itu dilaluinya tanpa kehadiran tangan lembut ayahnya yang siap membantu.
Entah kenapa akhirnya perlakuan saya pun menjadi berbeda. Saya kerap menganggapnya "my little baby" dan anggapan itu justru mulai terasakan pada saat merawat dan mengamati pertumbuhannya.
Dia tetap "my little baby" dan tumbuh menjadi anak yang lebih sensitif, lembut dan lebih kalem dibandingkan sang kakak.
Sayangnya dia tidak begitu banyak memiliki momen dan kenangan bersama sang ayah. M
y little baby merasakan bersaing dengan sang ayah untuk memperebutkan diriku dan dia perlu beberapa tenggang waktu untuk mengenali sang ayah dan mengijinkannya masuk dalam hidupnya, berbeda dengan sang kakak yang langsung memeluk dan mendaratkan bertubi-tubi ciuman.
Suatu hal yang terkadang membuat suamiku bersedih karena hak anaknya untuk diasuh oleh dirinya tidak bisa terpenuhi.
Anak-anak yang tumbuh dengan kehadiran sang ayah dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran sang ayah, tentulah berbeda.
Disadari atau tidak disadari ada peran-peran sang ayah yang tidak dapat digantikan oleh pihak lain.
Tentu yang dimaksud kehadiran sang ayah disini adalah kehadiran ayah secara fisik dan emosional.
Bukan sembarang ayah tetapi ayah yang mampu berinteraksi secara emosional, memahami dan mengenal emosi anak-anaknya, mampu mendorong serta mendukung secara moril.
Banyak hasil riset dan pendapat para ahli psikologi yang menyatakan bahwa keterlibatan seorang ayah dalam mengasuh anaknya adalah penting.
Peran ayah yang tidak dapat digantikan oleh sang ibu ini, dapat membentuk kecerdasan emosional anak dalam kehidupan sosialnya, bergaul dengan teman-teman dan kesuksesan di sekolah.
Kehadiran ayah dapat mengoptimalkan potensi yang ada pada diri anak.
Pengaruh sosok ayah ini juga dikatakan memiliki kekuatan yang tetap.
Bukan hanya ketika anak itu sudah menginjak remaja, semasa kecil masa balita, interaksi ayah dan anak ini akan semakin menguatkan.
Pada banyak kasus dimana ayahnya hadir dan merawat ketika mereka balita, anak tumbuh dewasa menjadi sosok pribadi yang lebih simpatik, empati, hangat dan cenderung memiliki hubungan sosial yang baik dan rasa percaya diri yang tinggi. Para ayah lazimnya berinteraksi dengan anaknya berbeda dengan cara sang ibu berinteraksi.
Ibu umumnya berinteraksi dengan lebih tenang, stabil dan lembut. Bermain dengan lembut atau membacakan sebuah buku cerita dengan tenang.
Ibu akan lebih cenderung memainkan mainan yang sudah lazim seperti cilukba, tepuk tepuk, membaca buku, mengerakkan mainan atau puzzle.
Dengan ayah, anak akan bermain lompat lompat, memanjat, kuda-kudaan atau pesawat terbang dengan mengangkat tubuh anak, permainan-permainan yang melibatkan emosi tinggi dan menggairahkan.
(Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, John Gottman).
Ayah akan menjadi "pelatih emosi" yang berbeda dengan ibu, dengan dua pelatih emosi yang berbeda inilah diharapkan hasil didikan ibu dan ayah akan mencapai keseimbangan dalam pribadi seorang anak. Ayah dan ibu, memiliki peran masing-masing yang saling mendukung dan membantu.
Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Ayah menjadi panutan yang sangat dibutuhkan bagi anak dan umumnya sentuhan kasih ayah lebih berkesan mendalam di hati anak-anak.
Ada istilah ayah hero anak-anak karena peran yang unik dan istimewa dimana ayah menjadi pujaan hati oleh gadis kecilnya dan menganggap seorang ibu adalah saingan.
Disana ia akan belajar mengenai figur laki-laki yang akan memberikan sudut pandang laki-laki, gadis kecil ini akan tumbuh menjadi sadar dengan identitas kewanitaannya.
Selama ibu dan ayah bisa menjelaskan secara proporsional pada masa ini, gadis kecil anda akan mulai belajar mengenal figur sosok laki-laki secara baik (Majalah Ayah Bunda).
Ayah juga merupakan panutan yang berbeda dengan ibu. Ketegasan yang berbeda dengan ketegasan seorang ibu, penyayangnya yang berbeda dengan penyayangnya ibu dan masih banyak lagi, sorot mata kecil anak-anak kita mengamati sosok ayah yang tentunya berbeda dengan ibu.
Menyadari pentingnya peran ayah tersebut, sangat disayangkan sekali bila masih banyak ayah-ayah yang "bertebangan" diluar yang melewati masa-masa pertumbuhan anaknya, yang tidak berinteraksi dalam merawat dan membentuk ikatan dengan anak-anaknya.
Untuk ayah yang sedang berpisah dengan keluarga, mungkin sebuah pilihan yang terpaksa dilakukan, maka sebaiknya bicarakan dengan baik-baik dan berusaha menjaga komunikasi dengan anak-anak sesering mungkin baik melalui telepon, chatting internet dengan kamera dan speaker audio atau lewat surat untuk anak-anak yang telah dewasa.
Untuk ayah-ayah yang berada di rumah tetapi tidak berinteraksi dengan baik, cobalah makin meningkatkan interaksi anda.
Be there when they need you. SOURCE: Serpong, Maret 2004 ani_soekarno@yahoo.com Catatan yang tercecer mengenang kepulangan suami.
Teruntuk para ayah yang sedang "ganbatteru" di Jepang.
Saya bertiga dengan anak-anak yang sulung putri berusia 4 tahun dan putri kedua berusia 2 tahun, harus berpisah jarak selama satu tahun.
Kedua anak saya lahir di Kyoto dan Yokohama. Ketika putri pertama berusia 3 tahun,
kami memutuskan untuk memulangkan saya dan anak-anak ke tanah air lebih awal karena alasan dinas kantor tempat saya bekerja, sedangkan suami harus melanjutkan studi doktornya selama 1 tahun lagi di Jepang. Awal saya mengamati pertumbuhan anak-anak yang jauh dari ayahnya, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Justru yang saya amati terdapat perbedaan adalah anak kedua, dimana pada masa pertumbuhan dari umur setahun menuju dua tahun,
dia tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Berbeda dengan si sulung, yang ketika lahir, keluar dari rahim ibunya, ayahnya sudah menantikan tepat saat dia hadir di dunia ini, ketika dia bayi, dimandikan ketika dia belajar duduk, merangkak dan berjalan dibawah tatapan mata sang ayah.
Bahkan ketika dia mulai mengatakan kata-kata pertamanya.
Ketika saya harus sibuk dengan riset di lab, dia akan tidur bersama ayahnya, dirawat, mandi ganti popok, disuapin dan bermain dengan ayahnya.
Begitu banyak interaksi dengan sang ayah. Alhamdulillah dia tumbuh menjadi anak yang riang, pemberani, mandiri bahkan istilah "hitomishiri" (alert terhadap orang lain/asing) tidak dialami.
Ikatan emosional dengan sang ayah pun terjalin dengan kuat. Dan saya pun memperlakukannya sejak awal bukan sebagai bayi karena kemandiriannya.
Dia tumbuh menjadi teman, adik, rival bahkan terkadang kakak yang menggurui ibunya.
Banyak kenangan dan momen dia lalui bersama sang ayah tercinta. Anak yang kedua, banyak sekali momen-momen pertumbuhannya tanpa kehadiran sang ayah.
Ketika dia belajar merangkak, saat umur 6 bulan, sang ayah harus pergi keluar kota karena melakukan eksperimen lab selama 2 minggu di bagian Jepang utara.
Dan selama waktu 2 minggu itu pula, bidadari kecil ini mampu merangkak merayap mengikuti jejak-jejak kaki dari satu ruangan ke ruangan lain.
Ketika dia belajar berjalan, jatuh dan bangkit kembali, sang ayah pun melewatkan masa-masa ini.
Begitu banyak pertumbuhan dalam jangka waktu setahun dan itu dilaluinya tanpa kehadiran tangan lembut ayahnya yang siap membantu.
Entah kenapa akhirnya perlakuan saya pun menjadi berbeda. Saya kerap menganggapnya "my little baby" dan anggapan itu justru mulai terasakan pada saat merawat dan mengamati pertumbuhannya.
Dia tetap "my little baby" dan tumbuh menjadi anak yang lebih sensitif, lembut dan lebih kalem dibandingkan sang kakak.
Sayangnya dia tidak begitu banyak memiliki momen dan kenangan bersama sang ayah. M
y little baby merasakan bersaing dengan sang ayah untuk memperebutkan diriku dan dia perlu beberapa tenggang waktu untuk mengenali sang ayah dan mengijinkannya masuk dalam hidupnya, berbeda dengan sang kakak yang langsung memeluk dan mendaratkan bertubi-tubi ciuman.
Suatu hal yang terkadang membuat suamiku bersedih karena hak anaknya untuk diasuh oleh dirinya tidak bisa terpenuhi.
Anak-anak yang tumbuh dengan kehadiran sang ayah dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran sang ayah, tentulah berbeda.
Disadari atau tidak disadari ada peran-peran sang ayah yang tidak dapat digantikan oleh pihak lain.
Tentu yang dimaksud kehadiran sang ayah disini adalah kehadiran ayah secara fisik dan emosional.
Bukan sembarang ayah tetapi ayah yang mampu berinteraksi secara emosional, memahami dan mengenal emosi anak-anaknya, mampu mendorong serta mendukung secara moril.
Banyak hasil riset dan pendapat para ahli psikologi yang menyatakan bahwa keterlibatan seorang ayah dalam mengasuh anaknya adalah penting.
Peran ayah yang tidak dapat digantikan oleh sang ibu ini, dapat membentuk kecerdasan emosional anak dalam kehidupan sosialnya, bergaul dengan teman-teman dan kesuksesan di sekolah.
Kehadiran ayah dapat mengoptimalkan potensi yang ada pada diri anak.
Pengaruh sosok ayah ini juga dikatakan memiliki kekuatan yang tetap.
Bukan hanya ketika anak itu sudah menginjak remaja, semasa kecil masa balita, interaksi ayah dan anak ini akan semakin menguatkan.
Pada banyak kasus dimana ayahnya hadir dan merawat ketika mereka balita, anak tumbuh dewasa menjadi sosok pribadi yang lebih simpatik, empati, hangat dan cenderung memiliki hubungan sosial yang baik dan rasa percaya diri yang tinggi. Para ayah lazimnya berinteraksi dengan anaknya berbeda dengan cara sang ibu berinteraksi.
Ibu umumnya berinteraksi dengan lebih tenang, stabil dan lembut. Bermain dengan lembut atau membacakan sebuah buku cerita dengan tenang.
Ibu akan lebih cenderung memainkan mainan yang sudah lazim seperti cilukba, tepuk tepuk, membaca buku, mengerakkan mainan atau puzzle.
Dengan ayah, anak akan bermain lompat lompat, memanjat, kuda-kudaan atau pesawat terbang dengan mengangkat tubuh anak, permainan-permainan yang melibatkan emosi tinggi dan menggairahkan.
(Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, John Gottman).
Ayah akan menjadi "pelatih emosi" yang berbeda dengan ibu, dengan dua pelatih emosi yang berbeda inilah diharapkan hasil didikan ibu dan ayah akan mencapai keseimbangan dalam pribadi seorang anak. Ayah dan ibu, memiliki peran masing-masing yang saling mendukung dan membantu.
Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Ayah menjadi panutan yang sangat dibutuhkan bagi anak dan umumnya sentuhan kasih ayah lebih berkesan mendalam di hati anak-anak.
Ada istilah ayah hero anak-anak karena peran yang unik dan istimewa dimana ayah menjadi pujaan hati oleh gadis kecilnya dan menganggap seorang ibu adalah saingan.
Disana ia akan belajar mengenai figur laki-laki yang akan memberikan sudut pandang laki-laki, gadis kecil ini akan tumbuh menjadi sadar dengan identitas kewanitaannya.
Selama ibu dan ayah bisa menjelaskan secara proporsional pada masa ini, gadis kecil anda akan mulai belajar mengenal figur sosok laki-laki secara baik (Majalah Ayah Bunda).
Ayah juga merupakan panutan yang berbeda dengan ibu. Ketegasan yang berbeda dengan ketegasan seorang ibu, penyayangnya yang berbeda dengan penyayangnya ibu dan masih banyak lagi, sorot mata kecil anak-anak kita mengamati sosok ayah yang tentunya berbeda dengan ibu.
Menyadari pentingnya peran ayah tersebut, sangat disayangkan sekali bila masih banyak ayah-ayah yang "bertebangan" diluar yang melewati masa-masa pertumbuhan anaknya, yang tidak berinteraksi dalam merawat dan membentuk ikatan dengan anak-anaknya.
Untuk ayah yang sedang berpisah dengan keluarga, mungkin sebuah pilihan yang terpaksa dilakukan, maka sebaiknya bicarakan dengan baik-baik dan berusaha menjaga komunikasi dengan anak-anak sesering mungkin baik melalui telepon, chatting internet dengan kamera dan speaker audio atau lewat surat untuk anak-anak yang telah dewasa.
Untuk ayah-ayah yang berada di rumah tetapi tidak berinteraksi dengan baik, cobalah makin meningkatkan interaksi anda.
Be there when they need you. SOURCE: Serpong, Maret 2004 ani_soekarno@yahoo.com Catatan yang tercecer mengenang kepulangan suami.
Teruntuk para ayah yang sedang "ganbatteru" di Jepang.
Tuesday, January 23, 2007
Setiap Wanita itu Cantik
Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?"
"Karena aku seorang wanita", kata sang ibu kepadanya.
"Aku tidak mengerti", kata anak itu.
Ibunya hanya memeluknya dan berkata, "Dan kau tak akan pernah mengerti"
Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"
"Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.
Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.
Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?"
Tuhan berkata:
"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "
"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "
"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "
"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "
"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."
"Kau tahu:
Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."
"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."
KISAH ARLOJI YANG HILANG
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. "Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu. "Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu. Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin."
Subscribe to:
Posts (Atom)