| Ada cerita tentang dua anak yang bernama Ceria dan Murung. Seperti namanya, Ceria sifatnya periang dan selalu tersenyum. Sebaliknya, Murung suka mengeluh dan selalu cemberut. Suatu kali Murung mendapat hadiah telepon genggam dari orangtuanya. Ia senang sekali, tetapi tidak lama wajahnya murung lagi. Ia khawatir teman-temannya meminjam telepon genggamnya itu dan merusakkannya. Bukannya mendatangkan kegembiraan, hadiah itu malah menjadi beban buatnya. Pada saat bersamaan, Ceria juga mendapat hadiah dari orangtuanya, yaitu kotoran kuda. Ketika menerima hadiah itu, Ceria kaget sekali, tetapi segera ia berpikir, "Ah, masa Ayah dan Ibu hanya memberi kotoran kuda, pasti ada sesuatu yang baik di balik ini." Ia lalu menghampiri ayah dan ibunya. "Ayah dan Ibu sangat mengasihi saya, jadi tidak mungkin hanya memberi kotoran kuda. Ini pasti sebuah tanda, bahwa Ayah Ibu sudah membelikan seekor kuda buat saya, " kata Ceria seraya tersenyum dan memeluk mereka. Cerah suramnya kehidupan kerap tidak tergantung pada kondisi di luar diri kita, tetapi pada bagaimana kita memandang dan menyikapinya. Habakuk hidup dalam masyarakat yang keras hati dan penuh dengan kejahatan . Walaupun demikian, ia tetap berpegang teguh pada imannya. Ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesusahan. Sebaliknya, ia mengarahkan diri pada kasih dan kuasa Tuhan, karenanya ia tetap dapat bersyukur. Sekarang ini, kita mungkin tengah berada dalam kondisi yang sulit, tetapi sesungguhnya dalam keadaan demikian pun kita tetap dapat memilih untuk bersyukur --AYA DALAM KEADAAN APA PUN SELALU ADA ALASAN UNTUK BERSYUKUR |
Monday, August 30, 2010
MEMILIH UNTUK BERSYUKUR
Thursday, August 26, 2010
KISAH SUP BATU
| KISAH SUP BATU Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di sebuah kota. Warga kota itu tak pernah bergembira, sebab mereka hidup dengan sangat mementingkan diri sendiri. Mereka mengerjakan segala sesuatu sendiri dan untuk dirinya sendiri. Selain itu, mereka suka mencurigai semua orang. Termasuk kepada tiga pengembara kelaparan yang duduk di tengah alun-alun kota mereka. Tiga pengembara itu membuat api lalu merebus sebuah batu. "Apa yang kaubuat?" tanya seorang anak yang lewat. "Kami membuat sup batu yang sangat enak, " kata si pengembara, "tetapi akan jauh lebih enak jika ditambah sesiung kecil bawang, " lanjutnya. Anak itu pun berlari dan mengambilkan bawang. Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka mengintip dan menengok satu per satu. "Sup ini akan jauh lebih enak jika ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh lebih baik." Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup yang enak (tentu setelah batunya dibuang) dan penduduk kota ikut menikmatinya. Untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan. Pemazmur menyebutkan betapa baiknya apabila kita hidup bersama dengan rukun. Tidak cuma berarti tinggal bersama-sama, tetapi saling menerima dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tanpa prasangka, yang menghalangi interaksi dengan sesama. Hidup harmonis ini bukan saja mendatangkan kebahagiaan bagi kita, melainkan juga bagi Allah. Seperti kata pemazmur, "… sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat ..." --SL ORANG YANG SELALU MENARUH CURIGA MEMBATASI DIRINYA UNTUK BAHAGIA |
Sunday, August 22, 2010
MEMBERI ATAU MEMANCING?
| Tulus hati merupakan nilai batin yang penting, tetapi sulit dijumpai. Masalahnya, kita biasa memiliki harapan di balik segala pemberian dan tindakan baik. Ketika kita melakukan kebaikan, kita diam-diam bermaksud membuat orang lain yang kita tolong merasa berutang pada kita. Hal ini tak ubahnya seperti memancing-ada sesuatu yang kita harapkan sebagai imbalan dari orang yang kita tolong; bahkan dari Tuhan. Namun, ini tentu saja tidak benar. Meski begitu, orang kristiani kerap punya motif tersembunyi. Kita menjadi orang yang penuh perhitungan dengan perbuatan baik kita. Semua ada hitungan bisnisnya. Lebih lagi firman Tuhan mengatakan: "Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga". Benarkah pemahaman kita ini? Memberi adalah tindakan kasih yang semestinya muncul dengan segenap ketulusan, tanpa embel- embel apa pun. "Hendaklah masing- masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita ... Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kamu ..." Bagi orang yang menjaga hatinya tulus dalam memberi, Allah melimpahkan berkat, yakni: "berkecukupan dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di berbagai perbuatan baik" (ayat 8). Mari memeriksa rekam jejak (track record) kita sendiri. Sudahkah hati kita jauh dari pamrih ketika kita mengasihi dan memberi? Periksalah diri Anda dengan jujur dan berani --DKL SEMAKIN DALAM SESEORANG MENGENAL KASIH TUHAN IA AKAN SEMAKIN MERASA BERUTANG KASIH KEPADA TUHAN |
Wednesday, August 18, 2010
SUKACITA PELAYANAN
| Saya teringat saat pertama kali saya belajar memasak. Saat itu mama saya spontan mengeluh, "Aduh, jadi repot!" Namun, Mama tetap mengajari saya memasak nasi goreng dengan sukacita. Saat itu, saya hanya diminta mengaduk nasinya dan Mama memberitahukan semua prosesnya sambil memasukkan semua bumbunya. Dan, jadilah nasi goreng pertama buatan saya. Waktu Papa mengatakan "Hm, lumayan enak!" rasanya hati senang sekali. Walaupun saya tahu, itu bukan nasi goreng saya, tetapi nasi goreng Mama yang saya aduk. Seperti itulah pelayanan kita. Sesungguhnya Tuhan bisa saja mengerjakan semuanya sendiri. Jika melayani Tuhan, terkadang kita malah membuat Tuhan "repot" karena perilaku kita. Namun, itulah kasih Tuhan yang mau menjadikan kita sebagai rekan sekerja-Nya. Dan, sukacita kita adalah ketika kita dapat melihat karya Tuhan melalui tangan kita. Melayani Tuhan memang tidak mudah. Terkadang kita mengalami hal yang tidak mengenakkan Namun, inilah hak istimewa kita, yaitu turut merasakan sukacita Tuhan saat melihat orang-orang yang kita layani bertobat dan bertumbuh di dalam Tuhan. Oleh karena itu, tetaplah giat melayani Tuhan --VT TUHAN ADALAH KAPTEN DARI TIM IMPIAN YANG SELALU MENANG MAKA BETAPA ISTIMEWA APABILA KITA PUN MENJADI ANGGOTA TIM-NYA! |
Tuesday, August 17, 2010
MEMPERLUAS LINGKARAN KASIH
| Apa yang Anda lakukan saat berada dalam lift yang penuh sesak? Anda akan menunduk, menatap pintu, atau mengutak-ngatik telepon genggam. Anda menghindari kontak mata, karena merasa tidak nyaman berdekatan dengan orang asing. Ini bukti bahwa tiap orang memiliki boundary: tembok pembatas tak terlihat di sekeliling tubuhnya. Jika seorang asing mencoba mendekat, secara refleks tubuh akan resah dan bergerak menjauh sampai ke "jarak aman". Tidak heran kita hanya merasa nyaman berada dalam lingkungan keluarga dan teman. Lingkaran kasih kita sempit. Lingkaran kasih kita perlu diperluas dengan meruntuhkan tembok pembatas yang membuat kita malas menjangkau orang asing. Ini tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Kita perlu berjuang mengatasi rasa tidak nyaman. Lalu, membangun jembatan persahabatan dengan orang di sekitar yang berbeda suku, agama, budaya, maupun status sosialnya. Jika kita tidak mau keluar dari zona nyaman, bagaimana orang bisa mendengar berita keselamatan? --JTI KITA BISA MENJADI BERKAT HANYA SELUAS LINGKARAN KASIH YANG KITA BUAT |
Monday, August 16, 2010
SISA 12 BAKUL
| Di sebuah gereja kecil ada seorang ibu yang rajin melakukan tugas- tugas gereja walau yang sederhana; menyapu ruangan, membereskan kursi- kursi sehabis dipakai acara gereja, menata buku nyanyian dan warta jemaat sebelum kebaktian, dan lain-lain. Gereja itu tidak punya karyawan tetap untuk mengurus pekerjaan tersebut. Ia melakukannya dengan sukarela dan senang hati. "Saya ini bukan orang yang pintar, tetapi saya ingin memberikan kepada Tuhan apa yang bisa saya lakukan walau mungkin sangat kecil, " begitu ia berkata. Ibu itu sungguh menjadi berkat bagi gerejanya. Dalam Injil Yohanes dikisahkan tentang orang banyak berbondong-bondong mengikuti Tuhan Yesus. Mereka sangat terpesona dengan kuasa mukjizat dan pengajaran Tuhan Yesus. Hingga sampailah mereka di tempat terpencil, jauh ke mana-mana. Para murid pun kebingungan, bagaimana mereka bisa memberi makan orang sebanyak itu. Di antara orang banyak itu rupanya ada seorang anak kecil yang mempunyai lima roti dan dua ikan. Ia menyerahkannya kepada Tuhan Yesus. Dari yang sedikit itulah kuasa Tuhan dinyatakan. Orang banyak dikenyangkan. Bahkan, masih tersisa 12 bakul. Kita mungkin bukan orang yang pintar, bukan orang kaya, tidak punya jabatan penting dan tidak pandai bicara. Pendek kata, kita orang yang biasa-biasa saja. Tidak usah berkecil hati. Yang penting kita punya niat untuk menyerahkan apa yang kita mampu dan kita punya untuk Tuhan. Sesuatu yang kecil dan sederhana, kalau kita serahkan untuk Tuhan, akan menjadi sesuatu yang sangat berarti --AYA BANYAK HAL BESAR BERASAL DARI PERKARA KECIL YANG DISERAHKAN KEPADA TUHAN |
MENGEJAR EKOR SENDIRI
| Seekor anak anjing bergerak lucu "mengejar" ekor pendeknya sendiri untuk menggigitnya. Jelas ia berputar-putar terus, tanpa pernah mencapai tujuannya. Anjing tua berkata kepadanya, "Lupakanlah itu! Tak usah kaukejar ekormu itu. Berjalanlah saja, maka dengan sendirinya ia akan mengikutimu." Dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak dapat diraih dengan terus sibuk mengejarnya. Salah satunya adalah kehormatan atau kemuliaan. Kian dikejar, kian menjauh. Sejenak teraih, sekejab raib lagi. Membuat kita jadi gila. Haus kuasa. Gila hormat. Di samping hasilnya sia-sia, harga yang harus dibayar pun amat mahal. Korban pasti berjatuhan. Hidup ini bukan untuk "mengejar" kemuliaan, kehormatan, kedudukan dan kekuasaan. Sebab, orang pasti akan "berputar-putar" dalam keributan, pertengkaran, dan aksi kekerasan. Semua payah, semua susah, semua kalah! Tugas kita adalah untuk "berjalan saja" memenuhi panggilan hidup, yaitu memuliakan Tuhan dengan cara melayani sesama; memberikan yang terbaik. Lupakan pamrih. Jauhkan keinginan untuk dimuliakan. Kemuliaan adalah hak Tuhan. Dia lebih tahu bagaimana melengkapi kita dengan anugerah-Nya. Berkat pasti "mengikuti" kita selaras dengan kemurahan- Nya atas karya pengabdian kita yang tulus --PAD LAKUKAN SAJA KARYA TERBAIK ANDA TUHAN TAHU MENGARUNIAKAN APA YANG TERBAIK UNTUK ANDA |
Subscribe to:
Posts (Atom)