Showing posts with label promise. Show all posts
Showing posts with label promise. Show all posts
Thursday, November 06, 2008
setia pada PERKARA yang KECIL
Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar ditepi sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.
Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap.
Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya..hup .. ia dapatmenangkap seekor ikan kecil.Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap padasang beruang, "Wahai beruang, tolong lepaskan aku." "Mengapa ?" tanya beruang."Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu," rintih sangikan.
"Lalu kenapa?" tanya beruang lagi. "Begini saja,tolong kembalikan aku ke sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di saat itu kau bisa menangkapku danmemakanku utk memenuhi seleramu." kata ikan. "Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanyaberuang
"Mengapa?" ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya."Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan !"jawab beruang sambil tersenyum mantap.
"Ops !" teriak sang ikan.Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhanberikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akanmenciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap :"Ohhhh... andaikan aku
tidakmenyia-nyiakan kesempatan itu dulu ..!!!?.
Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita.
Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;....
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ....
Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ....
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita....
Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar.
Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi kesempatan
yang besar.
Monday, April 02, 2007
menepati JANJI
Rini sangat kesal. Sudah berkali-kali dia ditelepon seseorang bernama Susi yang menawarkan suatu produk jasa kepadanya. Susi ini benar-benar bandel. Rini sudah bilang bahwa dia tidak perlu, eh tetap saja ditawari. Katanya, siapa tahu kalau suatu saat perlu.
Rini bilang tidak punya uang, eh dia mengatakan bahwa Rini boleh membayar sebagian dulu, tidak perlu langsung dilunasi.
Bahkan dia menyarankan agar Rini menggunakan uang tunjangan hari raya untuk membeli produknya. Waktu Rini bilang dia biasa menggunakan uang tersebut untuk pulang kampung dan ditabung, eh dia menyarankan agar Rini menggunakan transport yang lebih murah saja untuk pulang kampung dan sebaiknya menabung setiap bulan dari uang gajian daripada menabung setahun sekali. Bunganya lebih besar, katanya. Aduuh, bisa aja dia ngomong.
Sebenarnya Rini bisa mengerti mengapa Susi sangat gigih. Dia sendiri juga bekerja di bagian penjualan. Rini cukup terkenal sebagai penjual yang paling gigih dan paling berprestasi, karena itu dia dipromosikan sebagai penyelia. Semua orang di perusahaan itu mengagumi prestasinya. Tapi giliran bertemu Susi, Rini geleng-geleng kepala. Kalah deh dia.
Karena Rini memang tidak tertarik dengan produk yang ditawarkan Susi, maka dia selalu menolak. Karena tidak tahan, Rini ingin mengakhirinya. Maka, Rini kemudian menyatakan dengan tegas bahwa dia tidak mau. Rini tahu bahwa dia tidak perlu lagi mengemukakan alasan apapun. Dia hanya berkata dengan tegas bahwa dia tidak mau membeli. "Mengapa?" tanya Susi. "Ga apa-apa. Pokoknya tidak mau," jawab Rini.
Akhirnya Susi menanyakan apakah dia boleh menelpon lagi minggu depan. Rini mengatakan:"Tidak usah". "Bagaimana kalau bulan depan?" "Tidak perlu". Susi beluim putus asa. "Bagaimana kalau tiga bulan lagi?" "Percuma", kata Rini, "Saya tidak akan beli". "Kalau saya menelepon setahun lagi?", tanya Susi. Tawa Rini hampir meledak. Setahun lagi? Lama amat? "Boleh deh" katanya. Masih lama ini. Mana mungkin dia ingat.
Sejak hari itu, Rini terbebas dari Susi. Tapi dia belajar satu hal, kegigihan Susi membuatnya ingin meningkatkan dirinya. Susi tidak pernah sakit hati. Susi selalu tersenyum. Sikapnya terhadap orang lain tidak berubah meskipun orang lain tidak senang terhadapnya.
Susi tetap ramah dan sopan. Kelihatan sekali, Susi sangat menyenangi pekerjaannya. Susi tidak menganggap proses menjual sebagai beban, sehingga dia bisa merasa sakit hati apabila gagal. Tidak. Susi menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Pernah Rini bertanya kepada Susi mengenai hal ini. Tapi Susi dengan gembira menjawab bahwa tak ada seorangpun yang harus membeli produknya. Kalau mereka tidak mau, ya tidak apa-apa. Memangnya setiap orang harus mau kalau ditawari suatu produk? Mana ada aturan begitu? Kalau suka, pasti orang akan membelinya, kalau tidak suka ya tidak apa-apa.
Rini ingin berusaha lebih baik. Bukan supaya dipuji atau dikagumi. Tapi supaya dia bisa merasakan kenikmatan dalam melakukan
pekerjaannya. Dalam hatinya Rini tahu, dia belum seperti Susi yang tampak begitu menyukai pekerjaannya. Rini mulai mendisiplin dirinya sendiri. Pada saat-saat ingin bermalasan, maka Rini sengaja bekerja lebih giat, lebih banyak menelepon, lebih banyak bertemu calon pelanggan. Pada saat lelah, Rini beristirahat sebentar hanya untuk memulihkan staminanya. Setelah itu langsung mulai bekerja lagi.
Belum satu bulan, Rini sudah mampu meningkatkan prestasinya lebih jauh. Diam-dia dia berterima kasih pada Susi. Susilah yang membangkitkan semangat kerjanya. Entah dimana kini Susi berada.
Tiga hari yang lalu, tiba-tiba ada orang menelepon ke kantor. Ternyata Susi! Susi hanya berkata: "Mbak Rini, saya Susi dari PT ........Saya pernah berjanji kepada mbak Rini untuk menelepon mbak setahun lagi kan? Hari ini sudah tepat satu tahun sejak saya berjanji dulu. Makanya hari ini saya menelepon mbak Rini."
Hebat! Rini sudah lupa janji itu. Siapa sih yang mau mengingat -ingat janji pertemuan tahun lalu? Rini memang tidak menyangka kalau Susi akan menepati janjinya. Dulu waktu Susi berjanji, Rini menertawakannya. Kini, Rini mengaguminya. Salut deh.
Rini sampai malu rasanya. Selama ini Rini memang sering melupakan janjinya. Sering sekali sih tidak, tapi ada beberapa kali jugalah.
Kini Rini berniat lebih menepati semua janjinya. Dia ingin seperti Susi. Begitu selesai mengucapkan janji, Susi selalu langsung menuliskan janji tersebut di buku agendanya agar tidak lupa, semacam minute lah. Setiap awal tahun, Susi selalu memindahkan semua janji yang belum ditepati ke agenda yang baru. Pantas, tidak ada janji yang terlupakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)